Kerajinan Pandai Besi Di Sinjai

0 310

Kerajinan Pandai Besi Di Sinjai

Pengrajin besi atau pandai besi selalu identik dengan kaum adam. Tapi di Dusun Puncak, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Sulawesi Selatan hal ini tidak berlaku. Mayoritas penduduk yang dijuluki kampung pandai besi tersebut adalah kaum hawa.

Kisah yang langka ini membuat penulis tertarik untuk menjelajahinya. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam dari Makassar, akhirnya tiba juga di desa tersebut. Rasa penat bisa terbayar tunai setelah menyaksikan pemandangan alam di kampung yang terletak tepat di kaki Gunung Bawakaraeng ini.

Alam terbuka yang masih alami, hingga warga yang lalu lalang layaknya kehidupan di desa tetap terjaga rapih di tempat ini. Sawah-sawah terpampang begitu juga orang-orang yang beraktifitas di tempat itu. Awalnya penulis cukup menikmati suasana ini, sebelum akhirnya terdengar dentuman palu beradu dengan besi, beberapa meter dari rumah warga.

Dentuman itu juga hal biasa disini, dan itulah keunikan tempat ini. Suara bising itu adalah sumber kehidupan sebagian warga desa. Setelah berjalan beberapa meter, saya tiba di sebuah rumah yang dari jauh sudah terdengar kebisingannya. Hal pertama yang terlihat adalah seorang perempuan yang menggenggam palu berukuran besar. Bahkan lebih besar dari ukuran tangannya.

Dengan posisi jongkok dan siap mendentumkan palu ke arah bawah, perempuan ini terlihat memukul besi panas sekuat tenaganya. Besi ini akan diubah menjadi parang atau sebilah pisau.

Menjadi pekerja pandai besi bagi perempuan di desa ini sudah jadi hal biasa. Begitu juga dengan Kasmawati. Bahkan profesi perempuan pandai besi sudah jadi pekerjaan wajib sekaligus resiko menjadi istri dari pekerja pandai besi.

Jika di kampung-kampung lainnya, perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga atau minimal membantu suami di swah, hal itu tidak berlaku di tempay ini. Setelah menikah dengan laki-laki yang bekerja sebagai pandai besi, membuat sebagian besar perempuan juga menjadi pekerja pandai besi.

Selain Kasmawati, sosok perempuan pandai besi juga banyak ditemui di kampung Sinjai Barat ini. Kampung yang bisa ditempuh sekitar Tiga sampai Empat jam menggunakan sepeda motor, melalui rute Malino ini memang unik dan sangat jarang terjadi di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia sekalipun.

Dalam bahasa setempat mereka dikenal dengan sebutan Panre Bassi atau Pattapa Bassi. Seolah menjadi konsekuensi bagi para perempuan ditempat ini, yang memilih atau menjadi istri dari laki-laki pandai besi untuk juga jadi panre bassi.

Dengan berbalut kaos oblong dan menggulung sarung di kepala, yang difungsikan sebagai penahan rambut supaya tidak terurai, Kasma sengat cekatan memainkan palu dikepalan tangannya.

Tampak sesekali Ia menyeka keringatnya menggunakan kaos tangan butut yang kerap dipakainya saat menggeluti pekerjaan ini. Kasma harus menggunakan dua tangannya untuk memukul besi, karena palu yang dia gunakan ukurannya lebih besar, “Palu ini juga lebih berat dari palu pemukul suami saya,” tambahnya.

Pemandangan ini, membuat saya berdecak kagum, melihat Kasmawati yang melayangkan palu dari ketinggian di atas kepalanya, sampai ke bawah, tempat besi seberat 5 kg ditempa menjadi senjata tajam.

Source http://www.amrul-arsyad.com http://www.amrul-arsyad.com/index.php/19-traveling/33-perempuan-pandai-besi-dari-sinjai
Comments
Loading...