Kerajinan Pandai Besi Kedok Turen Di Malang

0 313

Kerajinan Pandai Besi Kedok Turen Di Malang

Desa Kedok Kecamatan Turen Kabupaten Malang, yang berpenduduk 6000 jiwa ini sejak berpuluh-puluh tahun dikenal kalangan masyarakat luas sebagai gudangnya pengrajin (pandai) besi berbagai jenis alat pertanian. Mulai dari pisau, cangkul, sabit dan lainnya. Tetapi kini, pengrajin besi di desa tersebut justru sepi. Bahkan tidak ada warga yang beraktifitas.

Meski masih terlihat di sebagian lingkungan, tetapi itu sekedar bertahan di sela kesibukan mereka sebagai petani. Kini keberadaannya seolah tergambar dengan ungkapan ‘hidup segan mati tak hendak’. Mengingat keberadaan mereka semakin tersisihkan zaman yang serba modern dan industrialisasi.

Karya mereka mulai tergilas oleh barang pabrikan yang dapat diproduksi massal, canggih dan lebih murah. Seorang pengrajin besi mengungkapkan ’nrimo ing pandum’, artinya menerima pemberian dengan ikhlas atas apa yang dia terima dalam kehidupan atau legowo dalam menghadapi setiap liku-liku dalam kehidupan.

Kepasrahan pengrajin berusia sekitar 54 tahun ini, tersirat dalam ungkapan ‘Nrimo ing pandum’. Karenanya kakek 4 cucu ini sudah tak memproduksi cangkul lagi. Ini lantaran dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memasarkan hasil produksinya.

Dalam industri pande besi, blower ini berguna untuk meniup api yang ada dalam prapen. Sehingga akan menghasilkan api yang membara untuk proses pembakaran besi. “Blower ini salah satu alat yang agak canggih dalam produksi pande besi. Selain blower, ada beberapa alat yang dibutuhkan oleh pengrajin. Seperti alat untuk memukul besi. Harusnya itu ada bantuan dari pemerintah. Kami berharap, aktifitas pengrajin besi di Desa Kedok ini aktif kembali. Jika selama ini berkesan pasif, yang jelas karena kalah dengan buatan pabrik yang menggunakan peralatan jauh lebih canggih,” tambahnya.

Djoko Heri Prasetyo menjelaskan, belakangan ini pengrajin besi di Desa Kedok hanya ditekuni orang-orang tertentu.

Salah satu penyebab, tambah Kades yang menjabat selama hampir satu periode (2013-2019), saat ini pande besi desa Kedok sangat sepi peminat. Salah satu penyebabnya, terang Kades karena kemajuan teknologi.

“Mereka lebih suka beli di toko. Barangnya kebanyakan dikirim dari luar daerah. Padahal kualitasnya, juga tak beda jauh,” tambahnya. Juga dijelaskan, sebelum tahun 2000, pande besi Kedok merupakan produk unggulan desa. Betapa tidak, dalam satu hari, seorang pengrajin bisa menghasilkan lebih dari 10 jenis alat pertanian. Dulu, pemasaran produk lokal ini, dipatok dengan harga kurang lebih 50 ribu sampai ratusan ribu yang dipasarkan di Malang, dan tak menutup kemungkinan ke luar kota.

Source https://malang.memo-x.com https://malang.memo-x.com/35380/pandai-besi-kedok-turen-makin-terpinggir.html
Comments
Loading...