Kerajinan Pande Besi Di Tasikmalaya

0 272

Kerajinan Pande Besi Di Tasikmalaya

Pada umumnya, kaum perempuan yang tinggal di daerah kaki Gunung Galunggung, Kab. Tasikmalaya, memilih bekerja sebagai petani padi atau sayuran. Sebagiannya lagi, menekuni kerajinan tangan dengan memanfaatkan bahan baku dari bambu.

Tapi, tidak demikian halnya dengan Ny. Entay. Warga Kampung Cilembu, Desa Cikunten, Kec. Singaparna, Kab. Tasikmalaya, yang berada di kaki Galunggung, memilih bekerja sebagai tukang pandai besi. Bersama suaminya, Jeje, sudah 35 tahun Entay memilih menekuni usaha pandai besi. Dia bahu membahu untuk membuat golok, pisau, parang dan lainnya. Suatu pekerjaan yang sangat jarang dilakoni oleh perempuan di daerah pedesaan, tapi ibu dari tiga anak itu, enggan untuk melepaskannya.

“Saya tidak bisa bertani, karena tidak punya sawah ataupun ladang. Memang kalau di daerah Singaparna, banyak yang menanam sayuran atau padi, tapi saya mau nanam apa, tanah saja tidak punya,” kata Entay.

Menurut Entay, sejak tahun 1973 atau setelah menikah dengan Jeje, langsung bekerja di pandai besi. Oleh suaminya, Entay dibimbing untuk membuat golok, pisau atau parang. Biasanya, bahan mentah berupa besi per bekas mobil itu dibakar sampai berwarna merah. Setelah itu, dibentuk sesuai dengan kebutuhan, atau design golok atau pisau. Setelah itu dikikir sampai menjadi halus.

“Ada pahat untuk memotong. Kadang saya sendirian memotong atau oleh Bapak (suami-red) yang memotong. Kalau tidak, bagian mengikir untuk dihaluskan,” katanya. Terlihat kulit tangannya, cukup keras dan di beberapa bagian terlihat lebih tebal.

Dari usahanya itu, pasangan Jeje dengan Entay, dalam sehari bisa membawa pulang Rp 15.000,00 atau kalau pesanan sedang banyak mencapai Rp 25.000,00. Tapi, keadaan sekarang kurang begitu bagus, karena bahan baku per besinya, terus mengalami kenaikan. “Sekarang harga satu kg per bekas itu, mencapai Rp 9.000,00 padahal sebelumnya Rp 5.000,00/kgnya. Jelas, kenaikan itu memukul usaha kita, karena untuk menaikan drastis harga golok atau parang, takut tidak laku,” katanya.

Harga jual golok karya pasangan Jeje dengan Entay ini, dipatok Rp 30.000,00/bilah. Sedangkan, parang atau pisau kecil rata-rata Rp 10.000,00. Para pembeli seringnya datang ke tempat pandai besi yang satu ini. “Kalau tidak ada yang beli, kita bawa ke pasar. Tapi, kadang kembali dibawa pulang, karena tidak ada yang beli,” katanya.

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2009/06/10/91031/ny-entay-jadi-pandai-besi-sejak-1973
Comments
Loading...