Kerajinan Parut Kayu Di Desa Sodo

0 359

Kerajinan Parut Kayu Di Desa Sodo

Warga menjuluki perajin yang membuat alat parut kelapa dari Dusun Selorejo, Desa Sodo, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai laskar parut. Layaknya laskar, setiap rumah di dusun tersebut selalu kompak dalam membuat parutan kelapa. Mereka mengisi waktu luang setelah bekerja di ladang untuk membuat kerajinan parut. Wilayah Gunung Kidul memang telah dikenal sebagai sentra penghasil parut.

Parut kelapa tak lain merupakan alat sederhana yang pastinya dibutuhkan oleh setiap rumah tangga demi sajian masakan bersantan. Kehadiran parut tak pernah tergeser oleh desakan modernisasi. Meskipun sebagian keluarga memilih cara praktis dengan memblender kelapa atau menggunakan mesin pemarut kelapa, rasa masakan dinilai lebih sedap jika kelapa diparut dengan menggunakan tangan.

Alat parut kelapa ini pun tidak dilahirkan dari pabrik, melainkan dari rumah-rumah sederhana warga di pelosok pedesaan. Di antara kandang-kandang sapi dan kambing yang becek di musim hujan, suara ketukan palu bersahut-sahutan dari setiap rumah di Dusun Selorejo. Diiringi tawa dan obrolan panjang, setiap perajin tak henti-hentinya memasang kawat di parutan kelapa.

Satu per satu kawat itu dianyam di lembaran kayu berukuran 40 cm x 12 cm membentuk bagian tajam dari parut. Parut kelapa tersebut setidaknya bisa awet digunakan hingga lima tahun. Tradisi pembuatan parut kelapa telah diwariskan secara turun-temurun. Jumlah perajin pun terus bertambah seiring tingginya permintaan dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Pulau Sumatera.

Sulasmi yang hanya lulusan sekolah dasar dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota Wonosari mengaku selalu menggunakan waktu luang ketika libur bekerja dengan membuat parutan kelapa. Begitu sampai di rumah orangtuanya, tangan Sulasmi seakan sudah rindu bersentuhan dengan parut. Pekerjaan pembuatan parut memang telah menjadi sebentuk karya seni yang tentu bakal dirindukan.

Sulasmi bisa menghasilkan 20 parut kelapa per hari. Perajin hanya bertugas menganyam parut dengan papan kayu atau bakalan parut yang telah disediakan oleh para tengkulak seperti Wariman. Tiap menyelesaikan satu lembar parut, perajin memperoleh uang Rp 350. Biasanya perajin menyerahkan produknya ke tengkulak setiap lima hari sekali atau menjelang hari pasaran.

Dalam sehari, Wariman mengaku bisa mengumpulkan hingga lima kodi atau 100 lembar parut. Harga tiap kodi parutan kelapa berkisar Rp 40.000 hingga Rp 45.000. Perajin biasanya membuat dua bentuk parutan kelapa, yaitu lembaran yang menyerupai nisan dan kotak. “Perajin bisa membuat variasi bentuk, tetapi harganya tentu beda,” kata Wariman, yang mengaku juga menyuplai parut kelapa ke beberapa supermarket.

Perkembangan pangsa pasar parut pun semakin pesat. Jika pada tahun 1990-an tiap pasar tradisional bisa menjual hingga 50 kodi parut, saat ini telah mencapai 200 kodi. Jumlah tersebut biasanya semakin melonjak di musim kemarau ketika petani memiliki lebih banyak waktu luang karena tidak ke ladang.

Melalui karya sederhana berupa parut kelapa, warga Dusun Selorejo menunjukkan bahwa waktu luang di wilayah pedesaan pun tetap bisa diisi dengan kegiatan yang produktif. Meskipun belum bisa digunakan sebagai tumpuan hidup, parut kelapa sanggup memberi tambahan penghasilan.

Kehadiran kerajinan parut kelapa tak sekadar menghidupkan perekonomian desa, tetapi juga sanggup mengusir kebosanan dari kehidupan warga desa. Proses pembuatan parut memberdayakan warga Selorejo membunuh waktu luang dengan kegiatan yang produktif.

Source https://desasodo.wordpress.co https://desasodo.wordpress.com/2009/06/15/membunuh-waktu-luang-dengan-parut/
Comments
Loading...