Kerajinan Patung Bebek Kelas Ekspor Di Klaten

0 31

Kerajinan Patung Bebek Kelas Ekspor Di Klaten

Order Tembus 60 Ribu Biji, Hanya Mampu 1.200 Biji Para perajin suvenir atau cindera mata di wilayah Klaten semringah belakangan ini. Sebab, mereka diuntungkan dengan lesunya tukar rupiah terhadap dolar. Mereka mendapat nafas baru memperbanyak produksi. Seorang pria tampak sibuk di sebuah rumah di Kampung Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Klaten. Dia adalah Supriyadi, 35, perajin suvenir atau cindera mata patung bebek. Dia tampak serius memotong akar bambu ori  sebagai bahan baku bodi replika bebek.

Berawal dari kecintaannya di dunia seni pahat, membuat Supriyadi dan sang istri, Eni Purwanti, 34, memiliki banyak relasi dari berbagai negara. Di antaranya di eropa salah satunya Belgia. Relasinya seorang pembeli yang mengagumi hasil karya mereka hingga saat ini.

Menekuni kerajinan patung bebek ini, Supriyadi mengawalinya sejak 1998. Hingga kini, usahanya ini terus moncer, terlebih jika tukar rupiah terhadap dolar melemah. Melihat kondisi sekarang ini, dia banjir order dari luar negeri. ”Saya sambi ya Mas. Soalnya harus segera selesai pekerjaan ini,” tutur Supriyadi. Sesaat kemudian dia meninggalkan sementara pekerjaan, lalu memperlihatkan sebuah show room maupun gudang penyimpanan patung bebek yang akan diekspor ke Belgia.

Di gudang penyimpanan itu, Eni, istri Supriyadi mengisahkan bahwa usaha kerajinan patung bebek yang dijalani sudah ekspor tiga kali sejak April lalu. Setiap pengiriman, Eni hanya sanggup mengirimkan 1.200 biji patung bebek dengan berbagai model dan ukuran. Lantaran keterbatasan produksi, dia tidak sanggup memenuhi permintaan menembus 60 ribu biji.

”Setiap bulan saya hanya sanggup mengirim 1.200 biji ke Belgia. Padahal mereka mintanya 60 ribu biji patung bebek untuk ukuran kecil,” ujar Eni, sambil memperlihatkan beberapa model patung bebek yang akan diekspor.

Awal pengiriman ke Belgia, berkat dari sahabatnya yang mengajak tamu dari luar negeri berkunjung ke tempat produksinya. Ternyata mereka kagum dan menyukai patung bebek karya pasangan suami istri (pasutri) ini. Lantas pembeli asal Belgia tersebut meminta Eni untuk mengirimkan patung bebeknya ke eropa.

Puncaknya September nanti, Eni diharuskan mengirimkan 2.000 biji patung bebek dengan berbagai model dan ukuran. Nantinya dari Belgia masih akan didistribusikan lagi ke negara eropa lainnya seperti Austria, Jerman, dan Belanda.

Model patung bebek yang dibuat sangat khas dengan budaya eropa. Seperti aksi bebek yang sedang meluncur dengan papan ski sambil memakai topi natal hingga patung bebek yang lengkap menggunakan sepatu booth.

Berbagai pengalaman menarik pernah dialami dari ekspor patung bebek ke eropa. Supriyadi dan Eni pernah diajak jalan-jalan oleh pembelinya ke daerah Prawirotaman, Jogjakarta, sebuah kampung turis dengan mencicipi makanan kelas internasional.

”Saya dan suami pernah diajak ke Prawirotaman untuk makan yang sering dimakan sama bule-bule itu. Tapi saya tidak tahu namanya. Suami saya bahkan sampai bingung itu makanan apa,” kelakar Eni. Mereka berdua juga sering diajak pembeli dari luar negeri untuk meeting di hotel berbintang di Jogjakarta untuk membahas pengiriman patung bebek. Padahal mereka hanya merasa hanya seorang perajin patung bebek dari Kampung Jambu Kulon.

Pengalaman lain, Eni dibelikan sebuah handphone baru untuk mempelancar komunikasi dan pengiriman foto dari model patung bebek yang diingin dari pembeli. Dia merasa senang, lantaran hanya berawal dari membikin patung bebek, malah memiliki banyak relasi dari pembelinya di eropa, khususnya dari Belgia.

Kini ada seorang pembeli dari luar negeri yang akan mendirikan sebuah gudang di lahan seluas 2.000 meter persegi tak jauh dari rumah Eni. Gudang itu untuk menyimpan patung bebek buatannya yang akan siap untuk diekspor ke Belgia. Pembeli tersebut juga mempersilakan Eni untuk menempatinya sebagai tempat produksi, sehingga diharapkan bisa memenuhi target permintaan konsumen di eropa.

Source http://www.kebumenekspres.com http://www.kebumenekspres.com/2015/08/melongok-perajin-patung-bebek-kelas.html
Comments
Loading...