Kerajinan Patung Dari Limbah Telur Di Solo

0 312

Kerajinan Patung Dari Limbah Telur Di Solo

Di tangan Bejo Wage Suu, limbah peti telur dapat menjadi kerajinan bernilai seni dan bernilai ekonomi yang relatif tinggi. Dari peti telur berbahan kayu pinus, dia membuat patung-patung mini setinggi 5 sentimeter. Dengan satu peti telur yang diperolehnya cuma-cuma dari para penjual di pasar-pasar tradisional di Solo, Jawa Tengah, dapat dibuat 100 patung mini.

Namun, karena makin sedikit peti telur yang berbahan kayu pinus, Bejo kemudian beralih menggunakan lembar-lembar kayu pinus untuk bahan baku patung mininya. Dari satu lembar kayu pinus berukuran 100 x 10 x 1 sentimeter yang dibelinya seharga Rp 1.800 misalnya, dapat dibuat 200 patung mini. Harga patung itu sekitar Rp 50.000 per buah.

Jika Bejo membuatnya menjadi papan catur berukuran 60 x 60 sentimeter dengan bidak-bidak catur berupa prajurit kerajaan kuno, karyanya dihargai hingga Rp 10 juta per satu set papan catur. Seiring dengan berjalannya waktu, nilai itu bertambah tinggi. Untuk membuat patung itu, Bejo hanya perlu gergaji tripleks dan pisau pemotong (cutter). Selain kayu pinus lembaran, bahan penunjang adalah bubuk kayu, kulit kayu, perca kain batik, dan sejenis tripleks.

Bejo menyebut karyanya sebagai ”patung”. Patungnya diukir menjadi sosok orang tengah mengerjakan berbagai aktivitas yang belakangan ini—terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar—jarang ditemui, seperti menumbuk padi, kerokan, naik sepeda, membatik, menimba air, membajak sawah, atau main congklak. Sudah puluhan aktivitas ia rekam melalui patung-patung kecil yang dia ”dandani” dengan kain dan kemben atau belangkon.

”Sementara ini, yang saya buat baru mengabadikan figur dengan busana khas Jawa Tengah. Ke depan, saya ingin menggarap kegiatan tradisi lewat patung yang menggunakan busana khas setiap daerah di seluruh Nusantara,” kata Bejo yang bernama asli Maryono.

Melalui karyanya, Bejo juga ingin berkisah tentang kekayaan warisan budaya bangsa yang hampir tak lagi dikenal kaum muda. Ia mengambil babad kuno sebagai sumber inspirasi sehingga terciptalah papan catur dengan buah catur yang diberi karakter bersumber dari cerita kuno, seperti perang Mataram dan Baratayudha.

Source http://www.eastjavatraveler.com http://www.eastjavatraveler.com/udheng-dan-simbol-keberadaan-osing/
Comments
Loading...