Kerajinan Payet Kaligrafi Di Semarang

0 464

Kerajinan Payet Kaligrafi Di Semarang

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk bertahan hidup. Seperti halnya Rukma Sulaiman warga Kelurahan Gayamsari yang bangkit dari musibah bencana yang dialaminya dengan membuat kerajinan payet kaligrafi. Berawal dari bencana tsunami yang menerjang tanah kelahirannya, Aceh pada 2004 silam yang memorak-porandakan rumah dan harta bendanya. Kejadian tersebut membuatnya hampir putus asa, tetapi istrinya Cut Azzeta yang sabar menghiburnya sehingga harus tetap berusaha.
Satu tahun Rukma harus hidup di barak pengungsian dan satu tahun hidup di tenda kain. Tanpa diduga dirinya menemukan uang dalam plastik jumlahnya senilai Rp 7 juta yang terdiri dari Rp 50 ribu, Rp 100 ribu serta uang Rp 5.000 an yang terbungkus rapi dan masih bertuliskan Bank Indonesia (BI) yang berada persis di samping tenda kainnya saat mengungsi.
Dengan uang tersebut, dipakainya sebagai modal hidup di Semarang ke rumah orangtua Cut Azzeta. Sementara itu, dirinya belum tahu apa yang harus dilakukan untuk tetap bertahan hidup. Suatu malam dirinya bermimpi ditemui oleh Raja Fath untuk menghias istananya, dan mimpi tersebut berulang sampai tiga kali.
Atas dasar itulah kemudian dirinya bercerita kepada isterinya tentang mimpi tersebut. “Kalau memang harus usaha apa, akan dijalani demi anak-anak, yang penting halal,” ungkap Cut.
Tak lama kemudian Cut Azzeta membuat tulisan arab yang bertuliskan pendek-pendek seperti lafal Allah dan Muhammad atau Assalamualaikum kemudian tanpa diduga istri diajak untuk pengajian di Masjid Al Ikhlas yang tidak jauh dari rumahnya di jalan kanguru.
Azetta pun memanfaatkan moment tersebut dengan membawa hasil karyanya untuk dipamerkan kepada tetangga serta pengikut pengajian tersebut. “Saat itu membawa 11 unit tulisan lafal arab yang pendek-pendek laku 8 unit,” katanya.
Setelah laku maka beberapa tetangganya di wilayah RT 02 Rw 06 banyak yang datang dan melihat hasil karya Suzzeta. Kemudian Suzzeta membuat kaligrafi yang agak panjang yakni ayat 7 setelah jadi kemudian dipajang di rumah.
Sejak saat itulah pemasarannya melalui pameran atau website untuk memasarkan barang tersebut, bahkan penjualannya sudah ke beberapa kota dan negara, seperti di Jawa dan Bali. Sedangkan negara yang telah membelinya seperti Amerika Serikat, Turki, Uni Emirat Arab.
Saat ini jumlah karyawannya berjumlah 32 orang yang terdiri dari warga sekitar serta beberapa warga dari RW lain. Ditambahkan Rukma, peluang untuk menjadi pengusaha ini sangat terbuka lebar, pasalnya untuk negara Turki sendiri menginginkan 500 unit tulisan kaligrafi perbulan.
Ukuran kaligrafi itu sendiri, katanya terdapat 20 ukuran mulai yang terkecil yakni A15 x 25 sampai ukuran yang terbesar 100 x 140 cm, dan desainnya sendiri berjumlah 22 desain, sedangkan  harganya mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 4,6 juta rupiah.
Sementara itu, Lurah Gayamsari Laily Widyaningtyas mengatakan dengan adanya Handmade Payyet Calligraphy and The Other Design Shegiva Collection sangat membantu warganya. Sebab, dari jumlah karyawan yang ada adalah penduduk di wilayah Kelurahan Gayamsari. “Ini sangat membantu perekonomian warga. Apalagi ekonomi saat ini lagi sulit,” katanya
Source https://hariansemarangbanget.blogspot.com https://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/payet-kaligrafi.html
Comments
Loading...