Kerajinan Pecut Tradisional Di Klaten

0 196

Kerajinan Pecut Tradisional Di Klaten

Pagelaran Sekaten yang diadakan Keraton Kasunanan Surakarta untuk memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi magnet bagi warga Solo dan sekitarnya. Tidak hanya menjadi hiburan murah meriah untuk kaum marginal, Pagelaran Sekaten juga menyimpan berbagai kenangan serta kejayaan.

Tapi bagi pria yang akrab disapa Mbah Manto, kondisi terik maupun hujan tak jadi soal. Kulitnya yang mulai kering dan wajahnya yang keriput menandakan ia memang tak muda lagi. Satu hal yang masih sangat terlihat dari warga Tempel, Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten itu, yakni semangatnya.

Kakek yang satu ini mengaku sudah menggeluti profesi sebagai pembuat pecut tradisional sejak 1962. Saat itu dirinya sudah memiliki satu putra mulai aktif merakit dan menjual di berbagai pasar tradisonal. Tak terkecuali di pagelaran Sekaten, Mbah Manto tak pernah absen dalam semarak setahun sekali pada bulan Maulid dalam kalender Islam tersebut.

Ia bercerita, awal mula ia hanya hobi membuat pecut, setelah sebelumnya pernah diajari oleh almarhum ayahnya. Lambat laun, hobi merangkai rotan yang diikat dengan serat itu pun menghasilkan uang. Sejak itulah, Mbah Manto semakin giat membuat kerajinan yang saat ini sudah mulai langka.

Bahkan, ia baru sadar jika rekan-rekan sejawatnya yang dulu berangkat dan berjualan bersama, saat ini hanya tersisa dirinya. Bukan karena tidak membuat maupun menjual pecut, namun banyak yang sudah kembali ke Pangkuan Sang Kuasa.

Di usinya yang akan memasuki 83 tahun itu, Mbah Manto kian khawatir dengan keberadaan pecut tradisional seperti karyanya. Sebab, generasi saat ini sudah sulit menemukan perajin pecut tradisional. “Anak saya tujuh, tapi tak satu pun yang mau menggeluti pecut. Mereka memilih bekerja sebagai buruh atau kuli, karena lebih mudah dapat uangnya,” keluhnya.

Selama 55 tahun menggeluti kerajinan pecut, lambat laun Mbah Manto mulai merasakan kesulitan. Semangatnya yang tinggi rupanya sudah tidak didukung lagi oleh usianya. Dalam membuat kerajinan pecut, Ia pun mulai melambat. Tak seperti 10 ataupun 20 tahun yang lalu. “Dulu sehari bisa membuat 30-50 buah pecut. Sekarang tak lebih 10, itupun belum dikasih serat,” terang Mbah Manto.

Tak hanya terkendala usia, Mbah Manto mengaku bahan-bahan untuk membuat kerajinan pecut saat ini kian menyudutkan orang seperti dirinya. Pecut yang dijual dengan harga tak seberapa dan memerlukan ketelatenan, bahan bakunya justru saat ini kian mahal. Rotan yang sebelumnya dijual Rp 7.000 -Rp 8.000 per kilogram, saat ini naik menjadi Rp 12.000. Kenaikan harga serat rotan juga jauh lebih mencekik, jika sebelumnya Rp 40.000, saat ini melonjak menjadi Rp 60.000. “Mboten kulo tempoh, kulo geh butuh. Menawi mboten ditempoh, mboten saget kagem wat-watan (Tidak saya jalani saya butuh juga. Kalau tidak dijalani, bagaimana untuk sambung hidup),” sambungnya.

Di saat kondisi ekonomi yang kian sulit, Mbah Manto tetap mempertahankan profesinya sebagai perajin pecut tradisional. Hasil karyanya pun dijual dengan harga yang tak terlalu mahal. Satu pecut ukuran sedang dijual dengan harga Rp 15.000. Sementara itu pecut ukuran kecil maupun besar dijual dengan harga Rp10.000 dan Rp 20.000.

Menurut dia, pecut merupakan salah satu barang yang dicari warga, terutama mereka yang memiliki ternak lembu. Meski di rumah masih ada pecut, namun saat perayaan sekaten seperti saat ini, mereka tetap membeli pecut.

Ia berharap, ada sebagian kecil masyarakat Indonesia yang tetap dan terus melestarikan kerajinan pecut tradisional. Manto bercerita, jika saat mudanya dulu ia sering berjualan pecut sampai di daerah Slogohimo, Pracimantoro, Baturetno bahkan hingga sampai Pacitan. Kondisi kendaraan maupun transportasi masih sangat langka. Ia pun mengaku setiap berjualan hanya mengandalkan truk-truk pengangkut barang.

Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2017/12/manto-wiyono-55-tahun-geluti-pecut-tradisional.html
Comments
Loading...