Kerajinan Perahu Kayu Di Bandung

0 401

Kerajinan Perahu Kayu Di Bandung

Profesi membuat perahu kayu bagi Harun sudah dilakukan secara turun temurun. Keahlian ini dia peroleh dari orang tuanya sejak 1973 silam. Sampai sekarang perahu buatannya masih banyak digunakan untuk mengevakuasi bila banjir datang di wilayah Kabupaten Bandung. Mungkin bagi kebanyakan orang, bila melihat pembuat perahu pasti keberadaannya dekat dengan pantai atau sungai. Namun, lain halnya degan Harun.

Pria yang berumur 65 tahun ini, sudah menggeluti profesi sebagai pembuat perahu dimulai sejak 1973 silam secara turun-temurun. Bahkan, sampai detik ini dia terlihat masih kuat untuk membuat perahu di usianya yang sudah memasuki senja.

Beralamat di Kampung Mekarsari RT 04/23 Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Harun bekerja seorang diri. Hanya berbekal peralatan pertukangan sederhana, dia masih terlihat cekatan untuk membuat perahu dalam tempo satu minggu.

’’Perahu ini mah buat, kalau banjir saja, kasihan masyarakat kalau enggak ada perahu enggak bisa kemana-mana,” ucap Harun ketika ditemui di tempat kerjannya.

Di tempat kerja, sebetulnya, jauh dari sungai apalagi laut. Namun, perahu buatan Harun hanya diperuntukan sebagai alat transportasi dan evakuasi bila terjadi banjir di wilayah Kecamatan Baleendah dan sekitarnya.

menurutnya, perahu buatannya tak hanya dipakai untuk evakuasi saat banjir, melainkan juga digunakan oleh para penambang pasir disepanjang Sungai Citarum, ojek perahu, hingga para penyedia jasa penyewaan perahu di beberapa danau wisata di Jawa Barat.

Bahkan, pada awal tahun ini Pemda Kabupaten Bandung membeli lima belas buah perahu untuk disumbangkan ke beberapa Kecamatan guna dipakai sebagai alat evakuasi bagi daerah yang dilanda banjir.

Sambi bekerja, dia menceritakan, membuat perahu tak bisa dilakukan sembarang orang. Keahlian ini dia peroleh dari orang tuanya yang diwariskan secara turun-temurun.

’’ Seperti saya sekarang juga mungkin akan mewariskan ilmu tata cara pembuatan perahu secara tradisional kepada kedua anak saya,’’ kata dia.

Selain untuk mempertahankan nilai seni dan cara tradisional, sepertinya untuk menggeluti profesi sebagai tukang kayu di zaman sekarang ini amatlah sulit. Namun, ke dua anak Harun sudah mulai membantu pekerjaan orang tuanya.

Kendati begitu, di akhir pembicaraan Harun mengeluh mengenai sulitnya mencari bahan baku kayu untuk membuat perahu tongkang. Apalagi, untuk membeli bahan baku kayu yang bagus dari jenis pohon Surian harganya sangat mahal.

“Kalau kayunya mahal, nanti sulit menjual, dan kalah sama perahu yang berasal dari bahan Fiber atau karet,”ucap dia.

Untuk satu unit perahu yang dia kerjakan di patok dengan harga Rp 2,5 hingga Rp 14 juta. Tergantung, dengan ukuran. Namun, ada juga perahu-perahu yang khusus di sewakan sebagai alat transportasi warga ketika banjir datang. a“Semakin besar ukuran, maka semakin mahal pula harga perahu tersebut.” ujarnya

Harun mengakui, pengrajin perahu bukan dirinya saja, akan tetapi beberapa tetangga menggeluti dengan profesi sama. Bahkan, Kampung Mekarsari ini layak di sebut sebagai Kampung Perahu. ’’Kampung ini tetap dijuluki Kampung Perahu oleh warga yang bermukim di luar Baleendah,’’ tutur Harun

Source http://jabarekspres.com http://jabarekspres.com/2018/mengais-rezeki-dari-datangnya-musibah/
Comments
Loading...