Kerajinan Peti Di Bekasi

0 229

Kerajinan Peti Di Bekasi

Bagi Sebagian orang, peti mati mungkin akan terdengar menyeramkan. Maklum, peti mati akrab dengan suasana kematian dan alam kubur. Padahal peti mati tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Terutama bagi penganut kepercayaan tertentu yang digunakan untuk perlengkapan pemakaman. Sehingga ada saja orang yang mencoba mengadu peruntungan mengelola bisnis peti mati.

Seperti yang dilakukan oleh Kin Tan, pembuat peti mati yang berada di Jalan. Djuanda, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur Kota Bekasi. Pria keturunan Tionghoa ini, sudah melakoni pekerjaan ini sejak tahun 1986. Menurutnya, pekerjaan tersebut merupakan warisan dari nenek moyangnya sejak tahun 1960. Sampai generasi kedua, kini Kin Tan masih meneruskan usaha mendiang ayahnya agar tetap langgeng.

Membuat peti mati, adalah pekerjaan yang tidak melulu berorientasi bisnis. Tapi didalamnya ada muatan sosial dan spiritual. Sebab, di satu sisi ia harus mendapatkan untung dari keluarga yang berduka. Tapi ia juga tidak segan-segan memberikannya secara cuma-cuma ketika memang keluarga yang meninggal tidak mampu membeli peti mati.

Bisnis peti mati tidak dapat diukur secara pasti. Kendati, permintaan terhadap peti mati dari tahun ke tahun selalu meningkat. Terutama menjelang perayaan besar penganut ajaran tertentu. Dirinya yakin jika usahanya akan terus langgeng. Ditemui di bengkelnya, Kin Tan mengaku membuat beragam jenis peti mati dengan berbagai ukuran, model, jenis kayu dan lain-lain, bahkan peti mati ukuran anak kecil pun ia sediakan.

Harga satu peti mati tradisional ukuran standar dewasa berbahan kayu jati, dibandrol harga kisaran Rp 500.000 – 1.000.000. Kin Tan juga menyediakan perlengkapan pemakaman khusus bagi penganut tradisi Tionghoa ditambah prosesi pemakaman. ”Permintaannya bukan hanya dari Bekasi, tapi juga Jakarta, Depok, Tanggerang dan Bandung” ujarnya.

Untuk mengerjakan satu peti mati, tidak membutuhkan banyak orang. Biasanya hanya dikerjakan bertiga, satu orang tukang kayu, satu orang tukang cat dan ukir dan finising yang dilakukan oleh Kin Tan sendiri. Kin Tan mengaku harus mengatur siasat agar bisa terus memproduk peti mati dengan harga murah namun tetap mengedepankan kualitas. Pasalnya, kebanyakan pembeli mencari peti mati yang harganya murah.

Menurutnya, jenis yang paling banyak diminati adalah jenis Eropa. Khususnya kaum Tionghoa yang tinggal di perkotaan. Sedangkan jenis tradisional lebih banyak digunakan oleh mereka yang tinggal di daerah pinggiran dan menganut ajaran kuat. Daya tahan peti mati tradisional berbahan kayu jati bisa sampai 20 tahun terpendam di dalam tanah. Sedangkan untuk model eropa bisanya Cuma 10 tahun.

Kin Tan mengaku terkendala dengan keberadaan tempatnya yang kecil. Sehingga sering kali terkesan bukan toko. Selain itu juga tidak bisa memuat banyak peti mati. Selain membuat sendiri, Kin Tan juga menerima titipan peti mati dari Jepara untuk dijual di bengkelnya. Karena masalah modal inilah, Kin Tan mengaku tidak bisa membuat peti mati yang bagus. Karena harganya sangat mahal.

Untuk bisa bertahan dalam bisnis peti mati, Kin Tan mengaku bermodal kesabaran dan pertemanan. Karena promosi penjualan peti mati biasanya dari mulut ke mulut dan kepercayaan Selain itu, juga bekerjasama dengan berbagai rumah duka di Bekasi, Jakarta dan Tanggerang. ”Saya jalani aja, lumayan, sampai sekarang bisa buat nyambung hidup,” lirih Kin Tan.

Source http://jelajahbekasi.blogspot.co.id http://jelajahbekasi.blogspot.co.id/2010/10/bertahan-hidup-dengan-peti-mati.html
Comments
Loading...