Kerajinan Peti Telur Di Banyumas

0 269
Kerajinan Peti Telur Di Banyumas

Diantara tumpukan potongan kayu di gubuk berukuran lima kali enam meter persegi, Salimin terlihat sibuk membuat peti telur. Ia setiap hari menghabiskan waktu dari pukul 08.00 hingga 17.00 di gubuk itu sendirian.

Sehari warga Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Banyumas itu mampu membuat 50 peti telur. Ongkos satu peti telur dihargai Rp 300, berarti dalam sehari penghasilannya Rp 15.000 atau sebulan rata-rata Rp 390.000.

Ia sadar penghasilan yang diperoleh bekerja membuat peti telur kecil. Bahkan, kalau dihitung belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, aktivitas itu kini menjadi satu-satunya mata pencahariannya, usai ia terjatuh dari pohon kelapa saat mengambil nira pada 1987 silam.

“Memang hasilnya sedikit, tapi tetap saya lakukan daripada menganggur,” ujarnya saat ditemui sedang membuat peti telur di Desa Rancamaya.

Salimin mengaku sudah tidak ingat lagi hari dan bulan apa peristiwa mengenaskan yang dialaminya itu. Ia hanya ingat tahun saja. Pria yang memiliki empat anak itu terjatuh karena terpeleset usai menyadap nira sekitar pukul 06.00 atau baru memanjat tiga pohon kelapa.

Saat jatuh dari pohon kelapa dengan ketinggian 20 meter, ia dalam keadaan sadar. Namun, kedua kakinya tak dapat digerakkan karena syaraf kakinya sudah tidak bisa berfungsi.

Salimin hanya bisa terbaring di kamar tidur hingga satu tahun. Ia tidak dibawa ke rumah sakit karena terbentur biaya, tetapi hanya memanfaatkan jasa mantri dan tukang urut.

Kala itu tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah daerah untuk para penderes. Penderes yang mengalami kecelakaan kerja harus menanggung biaya perwatannya sendiri. Tak heran sebagian besar penderes yang jatuh dilarikan ke pengobatan alternatif.

Saat menjalani proses penyembuhan di rumah, Salimin tidak lagi memiliki penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, isterinya terpaksa harus bekerja serabutan dan berjualan ondol singkong – makanan tradisional khas Banyumas.

“Saya selama satu tahun menjadi beban isteri. Penghasilan berjualan ondol singkong tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga,” tuturnya mengisahkan.

Melihat kocar kacirnya ekonomi keluarga, ia mulai berusaha melatih menggerakkan kakinya dan mencoba berdiri. Ini dilakukan hampir selama delapan bulan. Ia juga tidak lupa terus berdoa minta kesembuhan dari Tuhan.

“Saya selalu salat malam dan berdoa agar diberi kesembuhan dan umur panjang supaya bisa bekerja kembali untuk menghidupi anak isteri. Apalagi, anak pertama kami saat itu mulai masuk sekolah dasar dan membutuhkan biaya besar,” katanya.

Seiring waktu ia mulai bangkit. Kedua kakinya mulai dapat digerakkan dan berlatih berjalan menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan tubuh. Setelah mampu berjalan sendiri, ia mulai mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Salimin kemudian bekerja di industri rumahan mebel untuk membuat meja kursi. Pernah juga Salimin bekerja di industri rumahan itu hingga ke daerah Tegal. Namun, saat bekerja di Tegal anak-anaknya tidak rela karena kondisi kakinya yang tidak normal.

“Anak perempuan saya sering menangis, bahkan sampai sakit karena tidak tega saya berkerja jauh dari rumah. Akhirnya, saya keluar dari pekerjaan di mebel,” katanya.

Ia kembali mencari pekerjaan lain yang tidak jauh dari rumah. Akhirnya ia memilih bekerja sebagai pembuat peti telur milik orang lain. Sudah enam tahun ia menekuni pekerjaan itu.

Hampir setiap pagi dan sore ia selalu diantar dan dijemput oleh anak keempatnya yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dari peristiwa yang dilewati mulai dari masa pengobatan sampai kesulitan ekonomi keluarga, ia menegaskan bahwa cacat permanen yang dideritanya tidak mengurangi motivasi untuk beraktivitas dan bekerja untuk keluarga.

Prinsipnya optimis dan berdoa, selanjutnya hasil Tuhan yang menentukan. “Saya orangnya tidak suka menganggur, jadi saya terus berusaha mencari kesibukan sesuai kemampuan,” katanya.

Tidak semua penderes yang cacat permanen akibat terjatuh dari pohon kelapa dapat bekerja seperti sediakala. Mustorih, warga lain di Desa Rancamaya tidak bisa bekerja lagi setelah jatuh pada 15 tahun lalu.

Ia jatuh dengan posisi duduk, kaki kanan yang menjadi tumpuan awal sehingga menyebabkan patah tulang. Kala itu ia dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan karena harus menjalani operasi.

Istri Mustorih, Nasilem, menuturkan, selama proses penyembuhan, pihak keluarga telah menghabiskan biaya sekitar sepuluhan juta rupiah untuk biaya operasi dan perawatan lanjutan pascajatuh. Keluarga Mustorih tidak mendapat bantuan

Source https://www.suaramerdeka.com https://www.suaramerdeka.com/index.php/news/baca/19481/ironi-penderes-di-sentra-gula-kelapa
Comments
Loading...