Kerajinan Pigura Kayu Di Mojokerto

0 259

Kerajinan Pigura Kayu Di Mojokerto

Memiliki keahlian mengolah sesuatu yang tak berguna menjadi berguna, niscaya bakal mendatangkan banyak uang. Setidaknya itu dicontohkan Imron, perajin pigura yang menyulap limbah kayu menjadi usaha beromzet puluhan juta.

Bau tak sedap dari gosokan kayu limbah yang memenuhi ruangan itu tak mengusik ketenangan para pekerja. Mereka tetap asyik menggosok, memotong atau malah memilah-milah tumpukan kayu limbah di ruangan khusus milik Imron, warga Dusun Mojoroto, Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Rumah yang oleh Imron, sejak 16 tahun lalu sudah diubah menjadi tempat khusus untuk bekerja. ’’Memang bahan untuk membuat pigura ini lebih banyak dari limbah pabrik kayu,’’ katanya memulai cerita usahanya sebagai perajin pigura. Di mata sebagian orang, benda yang sebelumnya berupa potongan-potongan kayu itu lebih banyak berguna untuk kayu atau sejenisnya. Hanya beberapa orang, seperti dirinya yang bergelut di bidang kerajinan pigura yang bersedia menampungnya.

Jika sudah di tangan para perajin pigura, kayu-kayu bekas itu dipilah-pilah dan dipotong seperlunya. Lalu, limbah kayu bekas itu dibentuk sesuai keinginan, ukuran dan macam-macam bentuk pigura. Limbah sampah kayu inilah yang sejak tahun 1992 lebih digeluti Imron. Dari sebuah benda yang minim nilai ekonomi, Imron menyulapnya menjadi barang-barang kerajinan. Rumah berukuran 25×10 meter yang dijadikan sanggarnya untuk menghasilkan karya-karya kreatif. Ada banyak pigura yang sudah jadi beragam bentuk berjubel memenuhi ruangan. ’’Sebagian besar terbuat dari limbah dan sebagian lagi dari kayu utuh,’’ ujar Imron kalem. Sebagian besar adalah kayu meranti dan pinus.

Setelah merasa sanggup membuat pigura sendiri, Imron, pada 1992 memutuskan keluar pabrik. Dia lalu menjajal untuk mendirikan usaha kecil-kecilan. ’’Dengan modal Rp 3 juta, saya memberanikan diri mendirikan usaha kerajinan pigura,’’ tambah Imron lagi.

Tak cukup memproduksi, Imron dengan dibantu beberapa karyawannya, Imron juga menembus sendiri pemasarannya. ’’Tak hanya memproduksi, kita juga harus menembus pasar, khususnya agen-agen luar kota,’’ katanya. Saat ini, barang-barangnya sudah mengalir berdasarkan pesanan dari agen di Semarang dan Bali serta beberapa kota lainnya di luar Jawa. Dari sisi estetika, kerajinan pigura yang dihasilkan Imron sebenarnya terkesan ’’sederhana’’. Karena tak banyak macamnya, kecuali satu atau dua motif. Namun dia mengaku minimnya motif itu bukan karena bahan bakunya yang berasal dari berbagai jenis limbah. Akan tetapi bentuk, warna dan hiasan serta asesorisnya, hampir bisa dikatakan tidak memiliki nilai estetis dan tidak mengenal desain karena berdasarkan pesanan. Saat ini, usahanya sudah bisa mencapai omzet jutaan rupiah. Setiap minggu Imron yang memiliki 80 karyawan ini sudah meraup omzet Rp 77 juta. ’’Hampir 1.000 pigura setiap minggunya,’’ katanya. Baik mulai ukuran 18×18 cm seharga Rp 20 ribu hingga ukuran maksimal 72×120 cm seharga Rp 170 ribu.

Source http://satriapena.blogspot.co.id http://satriapena.blogspot.co.id/2009/01/setelah-limbah-kayu-di-tangan-imron.html
Comments
Loading...