Kerajinan Pion Di Giriroto

0 202

Kerajinan Pion Di Giriroto

Keadaan alam Desa Giriroto yang kurang sesuai untuk bercocok tanam menyebabkan sebagian masyarakat Desa Giriroto berada di bawah garis kemiskinan. Keadaan ini justru membangkitkan semangat warga untuk menghasilkan potensi-potensi selain pertanian.

Kerajinan menjadi penyelamat ekonomi warga. Salah satu kerajinan unggulan adalah pion. Pion adalah aksesoris bagian atas dari sangkar burung. Kerajinan yang terbuat dari kayu ini seolah menjadi jalan bagi warga untuk keluar dari lingkup kemiskinan.

Karni dan suaminya adalah satu dari sekian pengrajin pion yang ada di desa Giriroto. Raja Pion nama usahanya turut memasarkan aksesoris burung yang diproduksi oleh pengrajin lain. Wanita empat puluh tahun ini awalnya memproduksi gelodok dengan ukuran kecil. Meningkatnya permintaan pion, Karni pun memutuskan untuk lebih fokus pada produksi pion.

Karni memilih menggunakan kayu mahoni dalam proses produksinya. Kayu mahoni dipilih karenaa mudah dibentuk dan tidak mudah pecah selain bobotnya yang ringan. Karni dan suaminya dibantu oleh sepuluh karyawan yang bertugas untuk packing, finishing dan pengecatan.

Dalam sehari, Raja Pion mampu memproduksi 3000 hingga 4000 pion. Pion yang sudah melewati  proses finishing, dijual mulai harga dua ribu lima ratus rupiah hingga enam ribu rupiah per biji. Harga pion ditentukan dari ukuran dan tingkat finishing pion.

Pion Karni walapun dibuat dengan cara tradisional selalu mengutamakan kualitas. Pion yang berkualitas memiliki permukaan yang halus dan rapi. “Kelebihan kami  adalah menjaga kualitas. Proses produksi selalu kami lakukan dengan teliti dan hati-hati. Kalau kerja tidak asal-asalan,” ujar Karni.

Pemasaran Raja Pion sudah meluas hingga keluar pulau Jawa. Sangkar burung dan aksesoris tersebut biasanya dipasarkan di daerah Bandung, Lampung, Jakarta, dan Madura. Omzet yang diperoleh Karni dalam sebulan mencapai lebih dari lima puluh juta rupiah.  Keuntungan bersih mencapai lima juta setiap bulan.

Karni berharap agar usahanya mampu berkembang lebih besar lagi. Saat ini Raja Pion belum bias memenuhi kebutuhan pasar karena terlalu tingginya permintan pasar. Karni tetap bertahan dengan tenaga manusia. “Ya kalau stoknya kurang, Kami minta karyawan buat kerja lembur. Kalau pakai mesin kasihan karyawan nanti banyak yang kehilangan pekerjaan,” Tutup Karni

Source https://giriroto.desa.id https://giriroto.desa.id/potensidesa-2-Pion.Sang.Penyelamat.html
Comments
Loading...