Kerajinan Pipa Paralon Bekas Di Gunungpati

0 187

Kerajinan Pipa Paralon Bekas Di Gunungpati

Sering kita menemukan pipa paralon bekas berserakan di tempat sampah. Bagi Toni Yogo Pamungkas, sayang kalau limbah itu dibuang. Ia kumpulkan lalu dibawa pulang ke tempat workshop­-nya  di Kampung Kliwonan RT 2 RW 3 Gunungpati, Semarang.

Berbekal keahliannya melukis, Toni mampu menyulap paralon bekas itu makin cantik dan unik. Paralon yang sudah dilukis itu dibentuk menjadi vas bunga, hiasan dinding, pigura, celengan dan beragam kerajinan untuk mempercantik rumah. Ia juga menyulapnya menjadi miniatur taman mini dengan pancuran yang kini sangat diminati. Selain itu, paralon bekas itu  bisa dibuat menjadi cangkir, teko, tempat tisu dan berbagai pajangan lainnya.

”Limbah paralon biasa saya cari sendiri. Kadang dari tukang rosok. Tapi, kalau ada pesanan cukup banyak,  ya terpaksa beli pipa baru,” kata Toni Yoga Pamungkas alias Toni Tomblok.

Dalam sehari, Toni mampu membuat 5-6 set produk yang tidak terlalu rumit, dan kurang lebih 3 produk untuk yang masuk kategori sulit.  Ia mengatakan, dibutuhkan sekitar 1,5 meter hingga 2 meter paralon bekas untuk membuat satu set kreasi, seperti cangkir dan teko. Untuk yang lebih simpel seperti lampu meja misalnya, tidak sampai 1 meter paralon.

“Saya kerjakan semuanya sendiri. Tanpa pola, hanya mengikuti kata hati dalam pembuatannya,”ujar pria lelahiran Semarang, 18 November 1980 ini.

Duda tiga anak yang biasa melukis kanvas ini mengaku, untuk membuat kerajinan dari pipa paralon tersebut butuh teknik khusus pembakaran dengan alat seperti proses las yang tidak mudah dikerjakan. Namun setelah mengetahui tekniknya, proses pembuatannya sebenarnya tidak terlalu rumit.

Dijelaskan, kali pertama membuat kerajinan ini, pipa paralon ukuran 4 inchi dibakar dengan flar bersuhu 60-75 derajat celcius. Pembakaran tersebut untuk memecah permukaan pipa hingga memunculkan motif atau tekstur. Bersamaan dengan pembakaran, pembentukan pipa sekaligus dilakukan dengan hati-hati agar tidak pecah.

Toni menjelaskan, untuk membentuk paralon menjadi celengan atau tempat tisu, diawali paralon yang sudah dicuci dipanaskan bagian permukaan dengan blower. Paralon yang digunakan harus tebal. Untuk pralon yang tipis, tidak bisa dipanaskan, tetapi ditembak menggunakan airbrush.  Pemanasan ini juga bertujuan membuat paralon menjadi lempengan datar. Setelah peralon datar, lalu ditindih menggunakan keramik sekitar 10 menit supaya paralon benar-benar rata. Kemudian paralon yang sudah lempeng dipotong sesuai ukuran, dan ditempelkan ke paralon yang masih berbentuk lingkaran dengan lem paralon.

“Jika sudah jadi, peralon diamplas hingga halus. Tinggal dibentuk sesuai dengan keinginan. Untuk ornamen lain juga bisa dibuat dari pipa yang kecil,” ujarnya.

Terkait konsumen hingga saat ini, diakuinya, masih sebatas Kota Semarang dan sekitarnya. Namun ia berharap akan semakin banyak lagi masyarakat yang menyukai hasil kreasi paralon bekasnya tersebut. Bahkan ia juga mulai berkreasi menyisipkan tokoh-tokoh pewayangan dalam kreasi paralonnya dengan media cat minyak atau akrilik.

“Kerajinan berbentuk taman dan pancuran ini sekarang banyak diminati, karena bisa mempercantik rumah dan tidak memakan tempat terlalu besar,” ungkap Toni yang mengaku sudah mulai merintis kerajinan tersebut sejak 2015.

Jika dibandingkan interior yang dijual di mal besar, harga karya Toni memang tergolong murah. Meski demikian, karya uniknya ini tak kalah menarik untuk dipajang di dalam rumah. “Harganya tergantung bentuk dan ukuran serta kerajinanya dibentuk, biasanya dari Rp 30 ribu hingga Rp 1juta,”ujarnya

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2018/06/22/dibentuk-vas-bunga-teko-hingga-tempat-tisu/
Comments
Loading...