Kerajinan Pisau Di Desa Koripan

0 124

Kerajinan Pisau Di Desa Koripan

Sebagian besar pengrajin pisau dan alat-alat pertanian di Desa Koripan, Kecamatan Polanharjo Klaten gulung tikar. Dari sekitar 500 pengrajin, kini tinggal sekitar 40 pengrajin yang masih bertahan, dalam keadaan terpuruk.

Hal itu menambah deretan panjang tenggelamnya kejayaan potensi Klaten, seperti bera rojolele, kerajinan payung Juwiring maupun cor logam Ceper.

Keterangan yang dihimpun KR di Koripan, sentra industri pisau Koripan pernah mengalami kejayaan sekitar dua dasawarsa silam. Namun dengan membanjirnya produk Cina ke Indonesia, kejayaan itu kini tinggal kenangan sejarah saja.

Sehubungan  hal itu, para pengrajin mendesak  pemerintah daerah turun tangan, agar para pengusaha kecil tidak beralih profesi menjadi kuli pabrik. “Kita tak mampu bersaing dengan produk Cina. Kalau semua pengrajin tutup, akhirnya terpaksa cari kerja lain menjadi kuli pabrik. Kalau dulu semua perajin menjadi bos di daerah sendiri ,” kata Joko, salah seorang pengrajin pisau di Koripan.

Menurut Joko, sampai saat ini ia belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemeritah, baik itu berupa permodalan maupun pelatihan.

Lebih lanjut Joko menjelaskan, dulu dengan harga bahan baku Rp 3 ribu/kg, pengrajin bisa menjual pisau seharga Rp 50 ribu. Sekarang, harga bahan baku sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20/Kg, namun harga jual pisau hanya Rp 60 ribu. “Dari kalkulasi hasil, bukan kenaikan hasil tapi malah penurunan hasil. Sekarang kita cuma bertahan saja,” jelas Joko.

Menurut Joko, dampak membanjirnya produk Cina itu sangat terasa sejak tahun 2015 lalu. Produk dari Cina itu tidak hanya berupa pisau, tetapi juga alat pertanian seperti cangkul dan sabit. Dari segi kualitas memang lebih buruk dibanding produk Koripan, namun harga barang Cina lebih murah. Akibatnya konsumen banyak yang memilih membeli produk dari luar tersebut. Bahkan yang lebih menyedihkan, sekarang ini para pengrajin Koripan juga banyak yang membeli produk Cina untuk dijual lagi.

Akibat semakin rendahnya penghasilan dari usaha kerajinan pisau, generasi muda enggan untuk melanjutkan usaha orangtua mereka. Sekitar 80 persen pengrajin pisau Koripan tak  punya penerus.

“Sekitar 20 tahun lalu pengajin pisau dan alat pertanian mencapai sekitar 500 hingga 800 orang, sekarang tinggal 30-40 pengrajin,” tambah Joko pula.

Pada masa kejayaan, produk pisau dan peralatan pertanian Koripan merajai pasar nasional, merambah di seluruh pulau. Sekarang produksi sangat minim, rata-rata pengrajin menjual langsung pada konsumen lokal, dalam jumlah sedikit.

Source https://krjogja.com https://krjogja.com/web/news/read/83724/Sentra_Kerajinan_Pisau_Koripan_Terpuruk
Comments
Loading...