Kerajinan Rapai di Lhokseumawe

0 192

Kerajinan Rapai di Lhokseumawe

Rapai merupakan salah satu alat musik tradisional Aceh, alat musik ini memiliki ikatan tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh, baik secara filososfis maupun kultural. Mengingat begitu eratnya kehidupan masyarakat aceh dengan alat musik rapai sudah tentu pertunjukan atau pementasan rapai pun sering di gelar. Bahkan beberapa waktu yang lalu pemerintah Aceh menggelar event berskala international yaitu, Aceh international rapa’i festival.

Alat musik ini memang sudah dikenal dunia, semuanya tak terlepas dari tangan-tangan kreatif para pengrajin yang terus memproduksi alat musik khas bumi serambi mekkah ini. Salah satunya adalah Suniadi, pengrajin rapa’i Aceh yang berdomisili di Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Pabrik rapai aceh ini berdiri pada tahun 2000 dan dirintis oleh ayah kandung Suniadi, Hasballah. Sebelum memutuskan membuka pabrik rapai, Hasballah merupakan penabuh rapai juga merangkap sebagai ketua grup rapai gampong Blang Weu Panjoe.

Karena merasa sudah tua dan tidak sanggup lagi berprosei sebagai penabuh rapai, beliau memutuskan untuk fokus membuat rapai. Disamping itu, ada niat yang mulia kenapa Hasballah memutuskan untuk fokus menjadi pengrajin alat musik tradisional aceh ini, menurutnya, rapai merupakan warisan nenek moyang yang seharusnya wajib dijaga dan terus dilestarikan supaya kelak alat musik tradisional Aceh ini tidak tinggal nama atau punah tergerus zaman.

Suniadi atau yang akrab dipanggil soni menuturkan, rapai yang diproduksi di pabrik yang ia kelola dibuat menggunakan dengan kayu tualang dan merbau, sedangkan untuk kulit rapai menggunakan kulit kambing. Bahan-bahan tersebut dipesan dari orang yang nantinya diantar langsung ke pabrik rapai.

Setiap harinya industri rapai ini sanggup menyelesaikan 4-10 rapai, tergantung ukuran. Pembuatan rapai disini dikerjakan oleh tiga orang dan proses pembuatannya masih menggunakan cara yang manual, seperti pemotongan serta proses pembulatan kayu menggunakan mesin chainsaw.

Pabrik rapai yang sudah berdiri belasan tahun silam ini memproduksi berbagai jenis rapai, antara lain, rapai geleng, rapai geurimpheng, rapai musik, rapai daboh. Setiap jenis rapai tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, untuk rapai geleng dijual dengan harga Rp 5 juta per-set (12 buah). Sedangkan jenis rapai daboh, musik serta rapai geurimpheng dijual mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp1,2 juta per buah, tergantung masing-masing ukuran.

Source http://www.sulohnanggroe.net http://www.sulohnanggroe.net/2017/01/berbisnis-dan-melestarikan-alat-musik-aceh.html
Comments
Loading...