Kerajinan Rebana Di Brebes

0 354

Kerajinan Rebana Di Brebes

Desa Kaliwadas, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes dikenal sebagai penghasil produk alat musik rebana. Maka tidak heran, apabila kita mengunjungi Kaliwadas, akan dijumpai deretan toko yang memajang alat musik itu. Rebana adalah perkusi yang telah melekat begitu lama dan terkait sangat erat dengan seni tradisi Islam. Karena dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian dengan konten syair yang penuh dakwah, puji-pujian kepada nabi, sholawat, dan nyanyian islami lainnya.
Terbuat dari bahan kayu yang dibentuk melingkar dengan satu sisi lainnya ditutup dengan kulit kambing. Sementara, ada empat kayu yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan rebana, yakni kayu Sawo, Sono Keling, Mangga, dan Mahoni. Jumlah produksi rebana dibuat dalam berbagai ukuran, dan dalam 1 set rebana terdiri dari 6-8 rebana. Ukuran diameter berbeda-beda berdasarkan pesanan, di mana waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu rebana sekitar tiga hari.
Bagi warga Desa Kaliwadas, pembuatan rebana sudah menjadi produk rumahan yang diwariskan secara turun-temurun. Saat ini, para pembuat rebana merupakan generasi ketiga dari pendahulunya. Seperti Akhmad Khaeruri. Pria yang kesehariannya menjadi penjual rebana ini merupakan generasi ketiga. Kakeknya bernama Muhammad Ali yang biasa disingkat Mad Ali, termasuk salah satu perintis pembuatan rebana.
Akhmad Khaeruri, Penjual rebana di Desa Kaliwadas, Kabupaten Brebes merupakan generasi ketiga dari perintisnya Muhammad Ali. Akhmad menuturkan, kakeknya mulai mengerjakan pembuatan rebana sejak 1940. Moyangnya itu awalnya termotivasi membuat rebana, sebagai syiar Islam kepada tetangganya. Kebetulan juga, si kakek menjadi tokoh terpandang di masyarakatnya.
“Awalnya sebagai media untuk dakwah islam lewat pembuatan puji-pujian kepada Rasulullah. Karena saat itu, gempuran budaya asing sudah mulai gencarnya,” katanya kepada Panturapost.id, Sabtu, 3 Februari 2018. Dia menjelaskan, niatnya itu menghadapi banyak kendala untuk mengenalkan kepada kaum mudanya. Lewat masjid atau musala Ia dakwah itu disampaikan.
“Niat kakek saya ketika itu kok banyak anak mudanya hampir tidak ada yang hafal sholawat Nabi?. Padahal membaca sholawat merupakan ibadah kan?,” ucapnya. Dia pun menceritakan bagaimana susahnya membuat rebana waktu itu. Alatnya masih cara dikayuh. Bisa dibayangkan, satu rebana membutuhkan waktu sampai satu minggu. Produksi rebana di Desa Kaliwadas, Kecamatan Bumiayu, Brebes.
“Dahulu untuk mengikatkan kulit dombanya masih menggunakan tali, sementara di bagian bawahnya ada semacam kayu yang memanjang diinjak dan dikayuh menggunakan kaki,” kenang dia. Memang, lanjut dia, sentra pembuatan rebana di daerah lain sudah banyak. Namun, bagi dia, ‘Kluwung’ atau rebana yang belum dicat dan dipasang kulit asal Kaliwadas jadi yang membedakan dari daerah lain seperti Jepara atau Demak.
“Beberapa waktu kemarin dan sering juga dapat permintaan Kluwung dari Jepara yang terkenal dengan ukirannya. Artinya Kluwung kita masih dianggap kualitasnya terbaik dari daerah lain,” imbuh dia. Saat ini, tercatat ada Ratusan Warga Kaliwadas menjadi pengrajin atau pembuat. Rata-rata per rumahnya ada empat orang yang menjadi pengrajin rebana.
Banyak perajin-perajin yang kreatif dengan membuat model-model rebana, marawis, dan produk lain dengan inovasi yang menawan. Ada sentuhan seni, variasi warna, ornamen yang memikat, meski fungsi dasarnya sama yaitu sebagai alat yang menghasilkan bunyi-bunyian untuk membentuk irama dalam bermusik.
Kini wilayah pemasaran selain Pulau Jawa, juga merambah ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Juga sejak 1980, rebana Kaliwadas telah dipasarkan adalah ke negara serumpun seperti Malaysia dan Brunei.
Source https://kumparan.com https://kumparan.com/panturapost/potret-desa-kaliwadas-pusat-penghasil-alat-musik-rebana-di-brebes
Comments
Loading...