Kerajinan Reog Dari Barang Bekas Di Jember

0 145

Kerajinan Reog Dari Barang Bekas Di Jember

Sejatinya, berkesenian adalah memunculkan segenap kreativitas dalam diri. Tak ada kata tidak bisa bila mau berbuat dan berkreasi. Seperti yang dilakukan oleh pemuda Jalan Merpati Gang cempaka 3 Kelurahan Jember Lor ini. Tak ada yang menyangka bila Reog Singo Cemara itu dibuat dari ijuk sapu, ekor sapi, dan barang bekas rumah tangga lainnya. Sebab, semua sudah dimodifikasi seperti reog aslinya. Misal, ijuk yang menyerupai bulu merak dan ekor sapi yang sudah menjadi rambut kepala barongan.

Semua itu dibuat secara sederhana oleh para pemuda Lingkungan Kreongan Atas, Kelurahan Kreongan, Kecamatan Patrang. Keterbatasan sarana tak membuat mereka berhenti berkreasi. yakni berupaya mencari barang-barang bekas untuk dijadikan reog.“Sekarang ada dua reog yang dibuat pemuda sini,” kata Imam Ghozali, koordinator kerajinan Reog Singo Cemara.

Reog itu bukan seperti Reog Ponorogo, tetapi Reog Singo Cemara rasa Pendhalungan. Sebab, memunculkan karakter tersendiri. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal karena menggunakan bahan seadanya. “Kalau aslinya menggunakan Dadak Merak,” ucapnya. Sekarang, reog itu banyak dipinjam oleh berbagai kalangan untuk kegiatan. Terutama saat pelaksanaan Agustusan seperti saat ini.

Padahal, Imam beserta kawan-kawannya hanya ingin belajar berkesenian, membuat kerajinan reog, bukan untuk dikomersialkan. Sehingga ketika ada permintaan menggunakan reog, mereka pun memberikannya. Kreativitas kerajinan reog itu bermula ketika mereka melihat kesenian reog diperebutkan oleh negara Malaysia.

Tentu saja, pemuda itu tidak memiliki dana sebesar itu. Akhirnya mereka sepakat untuk membuat reog sendiri dengan alat seadanya. Waktu itu mereka mengumpulkan bekas sapu yang tidak terpakai. Setelah terkumpul, dirakit dan dijadikan bagian dasar reog. Memang tak mudah, sebab beberapa kali menemui kegagalan. Awalnya menggunakan gabus, tetapi mudah patah. Lalu pindah ke spon, hasilnya sama. “Hingga akhirnya pakai jaring sebagai alat untuk melekatkan ijuk itu,” terangnya.

Setelah tertata rapi, mereka tinggal mewarnai ijuk tersebut menjadi seperti bulu merak. Sehingga tampak seperti reog asli yang memakai dadak merak. “Merakitnya butuh waktu sebentar, karena dilakukan bersama-sama,” imbuhnya. Kemudian, kepala barongan juga dari alat yang sederhana. Pertama, mereka menggunakan bambu sebagai rangka kepala, namun tidak berhasil karena mudah patah.

Kepala berbentuk macan itu pun dibuat dengan spon bekas kursi. Kemudian dilukis menyerupai kepala macan. Uniknya, rambut untuk kepala tersebut terbuat dari buntut sapi yang didapatkan dari berbagai tempat jagal. “Itu bisa minta di mana saja, karena gratis,” tutur Imam. Tak butuh lama untuk membuat reog dari bahan bekas tersebut. Yakni sekitar satu bulan sudah bisa dipakai seperti reog pada umumnya. Setelah jadi, reog itu menjadi kebanggaan anak muda dan warga sekitar.

Bahkan mereka tertarik untuk terus belajar kesenian. Setelah muncul reog, mereka berlanjut ke kesenian jarang goyang yang dimainkan oleh ibu-ibu setempat. Setiap ada acara, mereka diminta untuk tampil di atas pentas. Seperti peringatan HUT RI lalu, ibu-ibu itu begitu pandai memainkan seni jarang goyang.

Bahkan, anak-anak kecil pun sudah tertarik untuk belajar kesenian. Setiap ada waktu kosong, mereka belajar membuat dan memainkan reog karya pemuda tersebut. Meskipun masih baru dua tahun membuat kerajinan reog, namun semangat untuk mengembangkan seni terus berkembang. Terbukti dengan permintaan tampil dalam berbagai kegiatan. “Kami masih mengumpulkan alat untuk membuat reog lagi,” pungkasnya.

Source http://dedjoem.com http://dedjoem.com/kreasi-kerajinan-reog-dari-barang-bekas-di-jember/
Comments
Loading...