Kerajinan Replika Bus Di Wonosobo

0 403

Kerajinan Replika Bus Di Wonosobo

Ruangan tamu berukuran sekitar 3×3 meter per segi di rumah nomor 25 Perumahan Medis Karangluhur RT 2 RW 3 Kalienget, Wonosobo, dimanfaatkan secara baik oleh penghuni rumah untuk berkreasi. Di sudut ruangan, seorang pemuda tengah serius dengan aktivitasnya. Lelaki itu bernama James Destino Vito Nugroho.

Menggunakan meja sudut, pria yang intim disapa James ini, sibuk dengan laptop, kertas, pengaris, serta berbagai alat kantor lainnya. Dia memotong dengan rapi. Lantas, pelan sekali, kertas itu dilipatnya. Hasil prakaryanya, tampak deretan miniatur bus berbagai tipe.

“Ada tiga pesanan yang hampir jadi. Sebagian dari perusahaan bus, sebagian dari penyuka bus,” kata James kepada Jawa Pos Radar Kedu. Pria berusia 19 tahun itu mengaku, beberapa PO besar, jadi langganannya. Seperti Rosalia Indah dan Sumber Alam. Beberapa pemesan bahkan ada yang meminta desain bus dari luar negeri.

“Saya dapat order dari orang Jerman, tapi orangnya masih nanya nanya tentang speksifikasi bus yang diinginkan,” ucap pemuda lulusan Kejar Paket C ini. James menekuni hobi merakit miniatur bus sejak duduk di bangku SMP. Ia sangat menyukai desain bus sejak SD. James bahkan menyukai suara klakson dan bus.

James awalnya menggunakan kertas karton untuk membuat miniatur bus. “Sekarang bahan masih kertas, namun desain bisa dipesan sesuai warna menyerupai aslinya sampai detail,” kata James.

Bambang, ayah James menambahkan, anaknya sejak kecil, sudah gandrung dengan berbagai tipe kendaraan. Utamanya, truk dan bus. Saking gandrungnya, James kerap meminta sang ayah untuk nonton bus dan truk di parkiran. “Sudah sejak SD, anak saya ini gila sama truk dan bus, bahkan sebelum ada klakson telolet, sudah suka suara klakson dari dulu,” kata Bambang.

Untuk menyelesaikan satu miniatur bus, James membutuhkan waktu hingga 3 hari. Meski berbahan kertas, produknya kuat. Bahkan miniatur bus mirip aslinya. Pada beberapa bagian, James membutuhkan waktu lama, karena dibuat sedetail mungkin, dengan skala 1 banding 50.

“Seperti ini, pada bagian lubang atas bus, saya buat detail pada lubang udara,” jelas James, sambil menunjukan miniatur bus warna kuning yang tengah diselesaikan.

Harga satu miniatur bus, James memasang tarif Rp 130 ribu sampai Rp 140 ribu. Harga disesuaikan dengan tingkat kesulitan desain. Sebab, para pemesan, tidak sedikit yang memesan dengan branding nama pribadi. “Pemesan tidak selalu dari perusahaan otobus, tapi banyak juga dari penghobi kolektor miniatur bus.”

Untuk memperbesar pangsa pasar, James telah bergabung dengan Ikatan Pengusaha Oto Paper Bus Indonesia (Ipopmi). Anggota komunitas ini, merupakan para pembuat miniatur kendaraan dari berbagai bahan baku. James bahkan tercatat sebagai salah satu pendiri komunitas yang sudah berdiri sejak dua tahun terakhir ini.

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2017/05/16/sejak-sd-sudah-suka-klakson-telolet/
Comments
Loading...