Kerajinan Replika Kayu Di Klaten

0 281

Kerajinan Replika Kayu Di Klaten

Sejak lima tahun terakhir, kera­jinan replika alat transportasi karya warga Dukuh Butuh, Desa Blanceran, Kecamatan Karanga­nom telah me­rambah pasar inter­na­sional.

Padahal, kerajinan tangan ke­las ekspor tersebut mengan­dal­kan bahan baku berupa limbah kayu sisa industri mebel. Perajin replika alat trans­por­tasi, Sofyan Hadi Lestari, mengaku telah menjalankan usaha kerajinan ta­ngan dari limbah kayu sejak 2001. Keterampilan membuat kerajinan tangan didapat ketika ia bekerja di salah satu perajin kayu pada era 1990-an.

Saat itu Sofyan masih duduk di bangku SMP. Selepas pulang sekolah, ia langsung bekerja di usaha kerajinan tangan milik tetangganya. Sofyan menerima upah sekitar Rp20.000 per hari.

“Apa saja saya kerjakan, mulai dari operator mesin, menggergaji, dan lainnya,” katanya saat dite­mui di kediamannya, Dukuh Bu­tuh RT 1 RW 3, Desa Blan­ceran, Ke­camatan Ka­ranganom.

Sofyan bekerja di tempat te­ta­ng­ganya hingga SMA. Kemu­dian setelah lulus SMA dan meni­kah, dia memu­tuskan untuk mem­­­buka usaha sendiri. Modal awal sekitar Rp5 juta diguna­kan untuk membeli mesin bekas dan lim­bah kayu jati. Limbah kayu jati dibeli dari salah satu pabrik mebel di Kecamatan Ceper. Saat ini harga lim­bah kayu jati Rp2.000 perkilogram.

Dalam sebulan, Sofyan meng­ha­biskan lima kuintal limbah kayu untuk diolah menjadi 500- 1.000 unit replika alat transportasi di antaranya mobil, bus, pesawat, kapal, truk molen, motor Harley, dan lainnya. Menurut dia, bagian tersulit adalah membuat sam­pel replika sesuai dengan ke­inginan pelanggan. Proses pembuatan kera­jinan dimulai dengan meng­ger­gaji material kayu sesuai pola.

Permukaan potongan pola ke­mu­dian dihaluskan dengan mesin am­pelas. Selanjutnya masuk tahap pera­kitan dengan mengga­bung­kan poto­ngan satu dan lain­nya menggunakan lem. Sebelum disemprot melamin, replika diam­­pelas lagi secara manual. “Yang diproduksi sesuai pesanan saja. Paling sulit saat membuat­kan sampel karena mereka hanya mengirim foto dan saya harus membuat gambar rep­lika berikut polanya.

Replika kan harus mirip deng­an ba­rang aslinya,” jelas dia. Sofyan mu­lai mengirim produk­nya ke luar negeri sejak 2012. Pasar pertama adalah Rusia, ke­mu­dian disusul negara lain se­perti Turki, Australia, dan Negara Fiji. Mayoritas pembeli dari luar ne­geri datang langsung ke Klaten untuk mencari kerajinan tangan dari material kayu.

Harga replika alat transportasi bu­atan Sofyan berkisar Rp17.­000-Rp65.000 bergantung uku­ran. Untuk ukuran kecil panjang 15cm, ukuran sedang panjang 23cm, dan ukuran be­sar menye­sua­ikan pesanan. Omzet keraji­nan replika alat transportasi men­ca­pai Rp20 juta per bulan.

Sayangnya, usaha kerajinan tangan terkendala cuaca karena proses pe­ngeringan dikerjakan secara manual. Pengeringan merupakan tahap akhir sebelum produk siap jual. Pengeringan membutuhkan waktu tiga hari untuk cuaca cerah normal. Jika cuaca men­dung dan sering hujan, pengeringan memakan waktu hingga tujuh hari

Comments
Loading...