Kerajinan Replika Pesawat Di Bogor

0 242

Kerajinan Replika Pesawat Di Bogor

Keterampilan Harto membuat miniatur pesawat ini diperoleh secara agak kebetulan. Tanpa pengalaman, ia berusaha memenuhi permintaan tersebut. Setelah bertanya kanan-kiri, ia baru tahu, bahan bakunya adalah serat fiber (atau resin) yang kebetulan mudah diperoleh di Bogor. Berkat ketelatenannya, ia mampu menyelesaikan kedua miniatur itu dalam 30 hari. “Saya ternyata mampu juga membuatnya, meskipun hanya coba-coba,” katanya agak heran dengan bakatnya. Untuk pesanan tersebut, saat itu ia dibayar Rp 400 ribu. “Saya tidak menghitung biaya produksi saat itu, tapi saya merasa senang sekali bisa melihat hasilnya,” ujarnya.

Dari situlah Harto mulai termotivasi untuk mengembangkan bakat terpendamnya. Makin dijalani, pengalamannya dan keterampilannya pun bertambah. Misalnya, untuk membuat model pesawat yang baik, ternyata ada beberapa sudut yang harus dipertahankan. “Banyak hukum konstruksi pesawat yang harus dipatuhi,” katanya dirumahnya di Bogor, Jawa Barat.

Setahun berselang, lewat seorang leveransir (perantara) bernama Raharjo, ia mendapat tawaran membuat replika pesawat dari Garuda Indonesia. Raharjo selama ini menggarap pesanan vandel dari maskapai nasional ini. Sayangnya, ketika mengikuti tender, leveransirnya tidak menang, kalah dari segi mutu dan harga dibanding leveransir lain. Namun, harap maklum, pemenang tender tersebut konon membawa produk miniaturnya langsung dari pabrikan Boeing di Amerika Serikat.

Tiga bulan berikutnya, leveransir pemenang tender menyetor pesanannya ke Garuda. Di luar dugaan, model pesawat yang disodorkan itu dikomplain Garuda karena mutunya tidak sesuai dengan contoh yang dibawa ketika tender. Raharjo pun mencoba maju lagi. Kali ini Raharjo berhasil meyakinkan Garuda dan mendapat order untuk pengadaan sekitar 500 unit model pesawat berbagai jenis. Saat itu, harga jual dari Harto ke Raharjo sebagai leveransir sekitar Rp 75 ribu/unit untuk tipe Boeing 747 ukuran 30-60 cm. Menurut Harto, karena saat itu bahan bakunya relatif murah, keuntungannya bisa mencapai 150%-200%.

Sejak 1990, melalui beberapa leveransir, Harto mulai kebanjiran order membuat miniatur pesawat dari berbagai perusahaan penerbangan. Merpati, misalnya, memesan sekitar 400 unit yang terdiri dari F-100 dan Boeing 737-200 (panjang sekitar 50 cm) dengan harga Rp 75 ribu/unit.

Dengan 11 karyawan mingguan dan 20 tenaga borongan, paling tidak dalam sebulan OAM bisa memproduksi sekitar 400 unit replika ukuran 15 dan 20 cm. Rata-rata per tenaga bisa mengerjakan sekitar 10 unit replika/minggu dengan ukuran 15 cm dan 20 cm.

Source Kerajinan Replika Pesawat Di Bogor SWA,co,id
Comments
Loading...