Kerajinan Replika Senjata Dari Limbah Di Malang

0 158

Kerajinan Replika Senjata Dari Limbah Di Malang

Di Tangan Mohamad Fariz, pipa paralon bekas, besi berkarat dan limbah kayu bernilai mahal. Dari tiga material tersebut, Fariz mengolahnya menjadi replika senjata yang digunakan pada Perang Dunia II. Beberapa karya warga Kelurahan Sumbersari ini pernah ditawar dengan harga Rp 30 juta oleh pembeli asal luar negeri. Namun pecinta sejarah itu tak menjual karyanya.

Daya kreativitas Fariz berawal dari hobinya mengoleksi replika senjata yang digunakan pada Perang Dunia II. Sebut saja M1 Garand dan Thompson yang digunakan tentara Amerika Serikat sekitar tahun 1936 hingga tahun 1950-an. Tapi harga jual replika senjata tersebut tak ramah dompet.

“Replika M1 Garand dan Thompson harganya Rp 6 juta. Itu belum termasuk bea masuk. Pernah ada teman mencoba beli, termasyk bea jadinya Rp 11 juta,” kata Fariz. Karena tak bisa membeli sendiri, pria ramah ini putar otak. Naluri seninya pun muncul.

Lalu barang bekas di tempat sampah terlintas dibenak alumnus jurusan Teknik Elektro ITN ini. Selain bisa diolah agar bermanfaat, ide Fariz ini juga ramah lingkungan. Awal tahun 2007 ia mulai membuat replika senjata Perang Dunia II.

“Untuk paralon bekas biasanya saya minta ke petugas sampah karena tak laku dirombeng. Sedangkan kayunya memakai dari bekas peti kayu buah. Biasanya ada langganan khusus dan beli cuma Rp. 18.000 per kilogram,” kata pendiri Komunitas Reenactor Malang ini.

 


Dari material yang didapat secara mudah itu, Fariz mulai merakit dengan berbagai sentuhan seni. Pertama kali dia berhasil membuat replika senjata mesin Bren dan MP28. Bersama Komunitas Reenactor, komunitas pecinta sejarah, Fariz mengenalkan replika senjata hasil karyanya kepada publik Malang. “Saat itu di acara Malang Tempo Doeloe tahun 2007,” kenangnya.

Tak diduga, ternyata banyak yang mengapresiasi apa yang dilakukan Fariz. Ia lantas tidak langsung berpuas diri. “Karena saya perhatikan ternyata rancangan saya yang pertama dari bentuknya yang masih kasar dan ala kadarnya,” tambahnya.
Berbekal ruangan 5×4 meter dan peralatan seadanya seperti gergaji tangan, bor, gerinda dan las listrik, pria 44 tahun ini mulai membentuk replika senjata dengan skala asli pada tahun 2009.

Bermodal besi bekas yang dibeli seharga Rp. 15.000 per kilogram serta berbagai referensi, Fariz menghasilkan lima macam senjata yang berbeda. “Saat itu membuat Garand, Thompson, Bren, Sten, dan Grease Gun tapi ternyata sama saja dengan yang pertama masih kurang detailnya,” kenangnya.

Baru tahun 2010 menjadi langkah baru untuk memulai segalanya. Detail persenjataan menjadi unsur utama ketika membuat replika senjata. “Takut kalau tidak diperhatikan detailnya malah menjadi bahan tertawaan Komunitas Reenactor dalam negeri maupun luar negeri,” beber pria kelahiran Malang ini.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/features/mohamad-fariz-pembuat-replika-senjata-dari-barang-bekas
Comments
Loading...