Kerajinan Rotan Di Sijunjung

0 266

Kerajinan Rotan Di Sijunjung

Syafdiwarman belajar menganyam rotan dari masyarakat Mentawai. Pengetahuan yang didapatkannya itu, kini jadi modal memajukan tanah kelahirannya Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpurkudus, Kabupaten Sijunjung.

Syadiwarman mengajak warga memanfaatkan potensi daerah dan bertekad menjadikan Sisawah sentra rotan terkemuka di Sumbar. Pada tahun 1987, Syafdiwarman merantau ke Mentawai. Kala itu, dia bekerja di sebuah perusahaan di Mentawai. Di sana, dia punya keinginan untuk mampu berkarya sendiri.

Pada tahun 1992, dia melihat potensi  rotan hutan Mentawai cukup menjanjikan. Lalu, dia belajar menganyam raton dengan penduduk setempat. Namun, dia tak bisa terlalu fokus belajar karena masih bekerja di perusahaan.

Pada tahun 1993 atau setahun belajar menganyam, dia mulai mahir dan mencoba menjual hasil karyanya ke toko kerajinan. Awalnya, dia mendapatkan penghasilan tak seberapa, namun lama-kelamaan hasil cukup besar pun diterimanya.

Diceritakannya, tahun 2006, dirinya kembali ke tanah kelahirannya di Sijunjung, tepatnya Jorong Kotobaru, Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpurkudus. Awal pulang kampung, Syafdiwarman tidak langsung menekuni bekerja sebagai perajin rotan, namun pindah-pindah di beberapa tempat, salah satunya sawmill di Sumpurkudus.

Dirinya tidak langsung kembali menekuni perajin rotan seperti di perantauan karena belum melihat potensi tersebut di Sijunjung, apalagi di kampung kelahirannya Sisawah. Meski dirinya mengetahui hutan-hutan di kenagarian Sisawah memiliki banyak rotan berkualitas.

Barulah sekitar tahun 2014, dia melihat potensi anyaman rotan mampu menjadi sumber ekonomi. Syafdiwarman kembali membuat kerajinan dari rotan, mulai dari keranjang, rak buku, ayunan hingga kursi rotan.

Awal memproduksi anyaman, dia mempergunakan rotan dari hutan Kenagarian Sisawah karena dinilai memiliki kualitas bagus. Dari awal menekuni kerajinan rotan, seluruh karyanya diperkenalkan ke pedagang di Sumatera Barat, seperti di Silungkang, Tanahdatar dan Bukittinggi.

Syafdiwarman mulai mengajak warga melirik rotan sebagai sumber mata pencaharian. Syafdiwarman kesulitan memenuhi pasokan pelanggan. Syafdiwarman pun kemudian mengajak masyarakat membentuk kelompok  perajin rotan dan memberi nama kelompoknya Antobuong.

Selain ingin menghasilkan lapangan pekerjaan bagi warganya dan membantu pendapatan masyarakat, Syafdiwarman juga memiliki keinginan menjadikan kerajinan rotan ciri khas Sisawah.

Awal mula kelompok kerajinan rotan Antobuong dibentuk, anggotanya hanya tiga orang, tapi kini sudah mencapai 8 orang. Jumlahnya sengaja dibatasi Syafdiwarman agar mudah diawasi dan dibina.

Dengan jumlah awal kelompok yang masih sedikit itu, Syafdiwarman berupaya mencari relasi dengan menawarkan produknya kepada para pedagang kerajinan di Silungkang.

Setelah berhasil mendapat kerja sama dengan salah satu pedagang kerajinan tangan di Silungkang, Syafdiwarman mencari peluang di Kabupaten Tanahdatar dan Kota Bukittinggi.

Rezeki tidak bisa ditebak. Perjuangannya itu membuahkan hasil. Beberapa toko di tiga wilayah tersebut menyambut baik kerja sama yang ditawarkan. Dalam sebulan, Syafdiwarman dan anggota kelompoknya harus mampu menyediakan 300 unit kerajinan rotan dalam berbagai jenis.

Awal kelompok dibentuk, Syafdiwarman mengaku kesulitan memasarkan produknya. Namun, setelah mendapat kontrak kerja sama, kendala lainnya mulai menghantui, yakni modal produksi yang terbilang banyak. Sehingga mau tak mau Syafdiwarman memutus sendiri kontrak yang terbilang besar itu.

Source http://www.news.padek.co http://www.news.padek.co/detail/a/76697/Syafdiwarman__Perajin_Rotan_di_Kabupaten_Sijunjung
Comments
Loading...