Kerajinan Rotan Siap Pakai Di Mamuju

0 376

Kerajinan Rotan Siap Pakai Di Mamuju

Menjadi seorang pengrajin rotan adalah pilihan tepat bapak yang satu ini. Ia adalah Bahar, warga Jl. Martadina Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju.

Ketika wartawan menyambangi tempat usahanya, Pak Bahar tampak sibuk mengerjakan sejumlah pesanan kursi. Beberapa kursi yang sudah jadi tampak indah dan punya nilai seni tersendiri. Nah, dengan keterampilan tangannya, rotan-rotan bak disulap Bahar hingga bernilai ekonomi lumayan.

Menurut pengakuannya, sudah puluhan tahun dia menggeluti pekerjaan sebagai pengrajin rotan. Ia mencoba membuka peluang usaha di Mamuju karena sebelumnya gagal di daerah Palu (Sulteng) dan Polewali Mandar.

Berbekal keyakinan akan kegagalan sebelumnya, semangat Bahar justru kian membara. Bagi dia, kegagalan masa lalu itu bukanlah petaka.

Bahkan, dia masih punya segudang harapan bahwa dari tangan dinginnya yang kreatif lahir karya keatif yang disukai orang. Dan alhasil, lelaki Bahar kini dapat menghadirkan beragam ukuran kursi, meja, hingga berbagai bentuk kerajinan rotan lainnya.

Meski memakan waktu lumayan, Bahar tetaplah optimis jualannya bakal laku. Dan terbukti, hasil kreasi Bahar mulai digeluti masyarakat. Dia mengaku dapat membuat sebuah kursi dalam lima hari. Biasanya kursi atau meja dikerjakan sesuai pesanan. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari  yang terkecil sampai yang besar, juga tergantung motif. Jika membuatnya sulit, maka otomatis harga lebih tinggi.

“Kalau kursi saja harganya Rp.1,5 juta, sedangkan kalau lengkap satu set dengan meja harganya Rp. 5,5 juta sampai Rp. 8 juta. Tergantung besar dan motif yang dipesan,” terangnya saat ditemui wartawan.

Kendati demikian menggait minat masyarakat, sejumlah kendala dirasakan. Ia pun berharap agar pemerintah bisa memberikan perhatian serius, khususnya bahan baku yang ternyata sulit dididapatkan di Mamuju. Bahar mengaku harus memesan di luar Sulbar untuk bahan kursi dan mejanya.

Ada hal menarik dari Bahar, ternyata dia banyak tahu tentang rotan. Kepada wartawan, ia bercerita tentang pilosofi rotan. Bahar mengatakan, rotan yang tumbuh di gunung dan mengandung banyak air, hidupnya selalu menjulang tinggi ke atas, mengikuti apa yang ada di sekelilingnya. Kata Bahar, pohom rotan tidak pernah tumbuh atau merambat kebawah, di situlah sarat pelajaran hidup bahwa manusia harus bergerak naik.

“Rotan itu melambangkan kesejukan, kedamaian dan selalu tumbuh menjulang keatas. Ibarat dalam kehidupan, manusia selalu mencari tempat kedudukan yang tinggi. Maka tidak lengkaplah dalam satu rumah tanpa ada bahannya yang terbuat dari rotan,” kata Bahar penuh canda

Source http://www.fokusmetrosulbar.com http://www.fokusmetrosulbar.com/2017/02/dari-tangan-terampil-lelaki-ini.html
Comments
Loading...