Kerajinan Rumah Kertas Di Semarang

0 231

Kerajinan Rumah Kertas Di Semarang

Rumah kertas merupakan satu dari sekian banyak media yang dipakai dalam upacara tradisional masyarakat Tionghoa untuk memberikan penghormatan pada leluhur mereka. Rumah kertas ini nantinya akan dibakar saat peringatan kematian/meninggalnya kerabat atau pendahulu mereka. Dalam upacara ini juga digunakan tata-cara perhitungan hari seperti halnya pada masyarakat Jawa, seperti tiga hari, tujuh hari dan yang agak berbeda, 49 hari. Pada hari ke 49 ini dipercaya arwah leluhur sudah naik ke kahyangan. Nantinya, abu hasil pembakaran rumah kertas tadi dilarung di laut, sebagai wujud kesempurnaan pengiriman rumah pada leluhur. Hal ini dapat kita saksikan pada komunitas-komunitas Tionghoa di kota-kota pesisir utara Jawa pada umumnya.

Ong Bing Hok sang pengrajin rumah kertas, adalah generasi keempat di keluarganya sebagai pembuat/pengrajin rumah kertas di Gang Cilik, Pecinan Semarang. Kakek-buyutnya, atau generasi pertama dari silsilah keluarga Ong Bing Hok masih asli Tiongkok. Menariknya di sini adalah hingga sekarang, Ong Bing Hok masih bertahan dan tetap melestarikan tradisi leluhurnya, meski (hanya) melalui usaha pembuatan rumah kertas ini. “ Karena ini hal yang mulia untuk dilakukan ,” demikian penuturan Ong Bing Hok.

Ong Bing Hok dan keluarga besarnya melalui banyak periode sejarah Indonesia dimana orang Tionghoa kerap kali mendapat perlakuan yang tidak adil. Salah satunya saat terjadi huru-hara pada 1965, Bing Hok menyaksikan sendiri bagaimana banyak temannya yang kabur ke Tiongkok. Namun tidak seperti kawan-kawannya, ia sendiri memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, karena saat itu menurutnya kondisi politik di Tiongkok juga sama tidak stabilnya dengan Indonesia. Karena peristiwa di 1965 itu pula, Bing Hok terpaksa keluar dari Tiong Hwa Hwee Kwan (sekolah berbahasa Cina) yang ditutup oleh pemerintah.

Pernik tersebut juga merupakan syarat dalam proses pembakaran. Karena tanpa berbagai pernik itu, diyakini rumah tidak akan terkirim dengan sempurna ke alam baka. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah ‘sertifikat rumah’ yang berisi nama si pengirim dan penerima. Semuanya ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Hokkian. Namun, ada kekhawatiran bahwa ketiadaan generasi penerus yang mampu berbahasa Hokkian inilah yang dapat mengancam keberlangsungan usaha turun-temurun ini.

Bing Hok mengatakan, bahwa saat ini hanya ada sedikit pembuat rumah kertas di Semarang. Jika ada pun, toh tidak semua dari mereka memahami betul bagaimana tata-aturan tradisi yang benar dalam membuat dan menyajikan rumah kertas dalam ritual sembahyangan. Dalam hal ini, Bing Hok tidak hanya mahir membuat rumah-rumahan beserta isinya, melainkan juga mampu membuat perlengkapan upacara lain seperti liantoo witeng-tengan, dan lain-lain.

Selepas menyambangi kediamaan Ong Bing Hok, kami mencoba untuk mencari informasi mengenai ritual bakar rumah kertas. Dari penuturan Bing Hok, membakar rumah kertas adalah tradisi penganut Kong Hu Chu. Namun dari beberapa artikel yang kami temukan, tradisi ini justru berasal dari seorang kaisar China beragama Budha. Walaupun tidak serta merta juga bisa dikatakan ini adalah tradisi Budha (karena memang bukan). Sebenarnya, menghormati leluhur memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cina, sehingga apapun agamanya, mereka kebanyakan masih menjalankan tradisi ini.

Source https://anastasiadwirahmi.wordpress.com https://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/18/ong-bing-hok-dan-rumah-kertas/
Comments
Loading...