Kerajinan Sablon Di Malang

0 174

Kerajinan Sablon Di Malang

Selama setahun terakhir Abdul Latief menjalani bisnis jasa sablon kaos, serta menerima pesanan aneka suvenir. Sebelum menggeluti kesibukannya, dulu Latief merupakan pecandu narkoba. Sekarang, Latief bersama sesama pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi, mendalami keterampilan industri kreatif bidang tekstil.

Latief bersama dua orang temannya, Silvy dan Tiara serta pendampingnya, Nuri Dwi Rahayu dan Widya Deni mengikuti pelatihan keterampilan tingkat lanjutan yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang.

Ketiganya yang tengah menjalani rehabilitasi di Panti Sadar Hati, Jalan Ogan 9 Kota Malang itu, mendapatkan pelatihan karena dianggap telah memiliki usaha rintisan.

“Saya setahun ikut kegiatan pendampingan di rumah rehab. Selama ini sudah belajar sablon untuk kaos dan aneka souvenir. Sekarang mulai belajar kerajinan kainperca, limbah daun dan flanel,” kata Abdul Latif di pelatihan desain produk bagi pengusaha kecil di Hotel Trio Malang.

Latief lebih senang keterampilan sablon dan kaos, sementara Silvy dan Tiara memilih keterampilan jahit menjahit. Ketiganya sudah kerap mendapat pesanan, selain juga memajang produk di gerai.

Sadar Hati bersama 25 industri kecil menengah (IKM) Induk mendapat pelatihan peningkatan mutu produk dari Disperindag. Peserta terdiri 70 orang pelaku usaha bidang industri kreatif bidang tekstil.

Selain korban narkoba, peserta pelatihan juga berasal dari mantan tenaga kerjawanita (TKW), pembantu rumah tangga (PRT) dan ibu rumah tangga yang sebelumnya sudah merintis usaha.

Pendamping pelatihan, Nur Suryanti dari rumah kreatif Pelangi Nusantara Singosari Malang mengungkapkan, para peserta mendapatkan materi memanfaatkan berbagai limbah daur ulang. Bahan terdiri dari kain perca, kayu, dedaunan dan lain sebagainya. Pelatihan digelar selama 10 Hari di Hotel Trio Malang, dari tanggal 5 sampai 15 April 2015.

“Pelatihan dikhususkan pada perajin yang sudah memiliki kemampuan dasar. Mereka harus sudah pernah punya produksi sebelumnya. Jadi mereka di sini tidak lagi belajar menjahit, tetapi sudah urusan perpaduan warna, desain dan cara memperlakukan produk,” tegasnya.

Bahan kebutuhan keterampilan dari bahan daun dengan memanfaatkan aneka tumbuh-tumbuhan dengan berbagai treatment. Produk yang dihasilkan berupa kotak tisu, lampu gantung, pigura foto dan lain sebagainya.

Sementara kebutuhan bahan keterampilan kain perca, kata Suryanti, bisa diperoleh dari sisa pabrik konveksi. Kemudian didaur ulang menjadi produk yang bernilai ekonomis. Bahan dibeli dengan harga Rp 4 Ribu sampai Rp 7 Ribu per kilogram. Setiap kilogram bahan akan menghasilkan produk 3-5 buah. Produk dijual dengan harga Rp 25 Ribu sampai Rp 2 juta.

“Harga tergantung tingkat kesulitan. Penjualan bisa lewat online, pameran, workshop, kunjungan tamu, beberapa sudah ekspor ke Jepang dan Australia. Khusus produk interior mobil ada yang dikirim ke Jepang,” katanya.

Syailendra, mewakili Disperindag Kota Malang mengungkapkan, pihaknya mempromosikan karya dengan mengikutkan berbagai pameran internasional, termasuk di Bulgaria dan Hongaria. Industri kerajinan, katanya, tidak penah mati, bahkan tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan.

“Karenanya pemerintah memfasilitasi sisi permodalan dan pemasaran. Kita link-kan. Pameran-pameran juga membantu pemasaran, sering produk mereka laku banyak dan makin dikenal,” ungkapnya.

Silvy yang mengaku setahun bergabung dengan Sadar Hati berharap keterampilan yang dipelajarinya akan memberi kesibukan dan menunjang usaha yang dirintisnya. Jika memungkinkan akan menjadi sumber pendapatan utamanya. Selama ini sumber pendapatannya masih serabutan, yang dirasa menjadi masalah terbesarnya.

“Pokoknya ingin berusaha sendiri di rumah, punya pendapatan yang bisa membantu keluarga,” katanya.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/bangkit-dari-keterpurukan-eks-pecandu-narkoba-geluti-bisnis-sablon.html
Comments
Loading...