Kerajinan Sajadah Batik Di Malang

0 104

Kerajinan Sajadah Batik Di Malang

Kabupaten Malang ternyata menyimpan potensi kerajinan batik yang beragam. Selain Batik Druju Sumbermanjing Wetan, ada juga batik Seng di Desa Sengguruh Kecamatan Kepanjen. Ciri khas batik ini adalah warna alamnya yang mencolok.

Keseriusan mempertahankan serta mengembangkan batik Seng ini bermula dari berdirinya yayasan Al Ikhlas tahun 2014. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi di  desa Sengguruh. Dari basis inilah

kemudian berdirilah paguyuban batik tulis yang diberi nama Batik Seng.
Awalnya memang semua butuh perjuangan keras. Termasuk mengembangkan batik Seng ini. Untuk bersaing dengan batik yang sudah ada di pasaran di Kabupaten Malang, paguyuban ini pun memutar otak keras. Akhirnya muncullah kreativitas, yaitu membatik tidak hanya untuk kain saja, tapi ada terobosan baru. Yaitu kain untuk sajadah.

“Untuk tetap bisa bertahan, kerajinan batik tidak dibatasi dengan busana atau pakaian. Maka dari itu, produksi batik harus memiliki keberagaman dalam jenisnya. Salah satu contohnya adalah pembuatan sajadah dan asesoris kain dengan motif batik digoreskan para perajin,” kata Koordinator Batik Seng, Evi Wahyu Astutik kepada Malang Post.

Sajadah batik, yang bisa dibilang produk baru pun lahir di Sengguruh dan siap menjadi bagian kekayaan produk batik di Kabupaten Malang. Evi menjelaskan, meski telah banyak pengembangan dalam kesenian batik, sajadah batik merupakan terobosan baru dalam dunia perbatikan khususnya di Kabupaten Malang. Karena masih belum banyak perajin batik yang membatik untuk sajadah.

Pangsa pasar yang sangat terbuka lebar tersebutlah yang ditangkap oleh para perajin batik Seng ini. Selain itu, lanjut Evi, paguyaban yang berdiri sudah tiga tahun ini merupakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Sengguruh. “Terutama kaum perempuan yang kebanyakan adalah wali murid dari Sekolah Alam Al Ikhlas. Ini juga merupakan upaya pendidikan melalui jalur non formal atau belajar kecakapan hidup,” tambah dia.
Tidak hanya itu, diungkapkan Evi, jika batik Seng yang menggunakan pewarna alami memiliki desain yang dikerjakan mulai dari halus hingga kontemporer. Harga yang ditawarkan mulai harga Rp 85-110 ribu untuk sajadah. Sedangkan untuk batik Jumputan dibandrol dengan harga Rp 150-1,2 juta

“Meski diversivikasi baru dijalankan dua bulan ini, yaitu dengan memproduksi sajadah batik, kami sangat yakin akan mendapat tanggapan baik dari konsumen. Selain itu untuk ke depannya kita melauching batik eco-print, yang dalam pembuatannya bisa dikerjakan dalam waktu singkat serta memiliki harga jual tinggi di pasaran,” urainya.

Batik eco-print ini dibuat dengan cara mencetak bahan-bahan yang ada di alam, salah satunya daun. “Kita harus bisa melihat peluang yang ada, apalagi popularitasnya batik eco-print sedang naik pesat pada 2017 ini. Salah satunya karena tren gaya hidup masyarakat ramah lingkungan,” pungkasnya.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/berita/malang-raya/terobosan-baru-sajadah-batik-dan-eco-print-ramah-lingkungan
Comments
Loading...