Kerajinan Sajadah Tenun Di Pekalongan

0 262

Kerajinan Sajadah Tenun Di Pekalongan

Dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, sejumlah alat tenun bukan mesin atau ATBM telah menghasilkan ribuan sajadah, dengan aroma harum akar wangi yang berkualitas ekspor. Selain batik, tenun ikat akar wangi ini telah menambah daftar potensi ekspor daerah itu.

Imron ikut berperan menghidupkan denyut ekonomi Desa Pakum Bulan. Dia bukan pengusaha yang datang ke kampung itu dengan modal uang besar. Imron sejatinya adalah anak tukang kerupuk yang tinggal di sebuah rumah di tengah persawahan.

Ayah dari lima anak itu menghasilkan produk berkualitas ekspor yang dibuat ratusan perajin di Desa Pakum Bulan. Apa yang dicapainya kini tak lepas dari kisah perjalanan jatuh bangun pengusaha yang menggeluti industri kecil, seperti tenun akar wangi.

Kata Imron, meskipun hidup sebagai wiraswasta, ayahnya itu selalu meyakinkan anaknya bahwa menjadi pegawai negeri sipil atau PNS harus bisa diraih. Alasan sang ayah, menjadi PNS berarti jaminan untuk masa depan. Maka, jadilah mulai tahun 1986 hingga 1992 Imron mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar di Pekajangan, Pekalongan, meski dengan status honorer.

”Untuk bisa diangkat menjadi PNS, saya disuruh membayar uang pelicin oleh oknum dinas pendidikan. Bayaran yang diminta lumayan besar buat wong ndeso kayak saya, sekitar Rp 2 juta,” tutur Imron.

Untuk memenuhi keinginan agar anaknya menjadi PNS, sang ayah rela memberikan sebagian tabungannya. Namun, Imron justru menggunakan uang pemberian itu sebagai modal membeli beberapa ayam. Dia lalu membuka peternakan ayam kecil-kecilan.

Sayangnya, usaha peternakan ayam ini tak berlangsung lama karena harga pakan ternak semakin mahal. Imron sempat beralih menjadi penyalur pakan ternak. Tetapi lagi-lagi modalnya sulit dipertahankan. Kebetulan ia melihat alat tenun teronggok di rumah orangtuanya.

Dia kemudian mencoba menghidupkan delapan ATBM yang terbuat dari kayu jati itu. Dulu, ATBM itu pernah digunakan untuk membuat sarung palekat karena warga kampung tersebut pada umumnya punya keahlian menenun sarung palekat.

Seiring kemajuan teknologi, ATBM yang dimiliki warga desa akhirnya cuma menjadi benda kuno yang ”dimuseumkan” pemiliknya. Bahkan, ada warga desa yang memiliki 50 ATBM dan hanya menyimpannya di rumah.

Seiring dengan semakin banyaknya pesanan dan beragamnya produk yang harus dibuat, jika awalnya Imron hanya dibantu 15 perajin, dia kemudian bisa menambah jumlah perajin hingga 125 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 70 orang khusus membuat tenun akar wangi dan 19 orang lainnya memproduksi tenun berbahan baku eceng gondok.

Alhasil, dari bahan baku akar wangi yang dia peroleh dari Garut, Jawa Barat, itu setiap minggu bisa dihasilkan tenun akar wangi sepanjang sekitar 1.000 meter dengan lebar 120 sentimeter. Berbagai produk barang bisa dibuat dari tenunan itu, mulai dari alas piring makan sampai karpet, tirai, dan partisi.

Pesanan yang datang melalui perantara juga mengakibatkan harga jual yang diperoleh Imron tak maksimal. Ketika sampai ke Malaysia, misalnya, harga jual produknya menjadi berlipat ganda.

Bahkan, saat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Imron bisa mendapati tenun buatan kampungnya itu dijual dengan harga jauh melambung. Contohnya, harga sajadah yang di Pekalongan Rp 40.000, di Mekkah bisa menjadi sekitar Rp 1 juta per helai.

”Sedihnya, konsumen asal Indonesia pun tidak tahu bahwa produk-produk yang dia minati di negeri orang itu sesungguhnya berasal dari Tanah Air, buatan perajin Pekalongan,” tutur Imron yang memasang harga tirai sekitar Rp 60.000 dan karpet Rp 80.000 per lembar.

Source http://kliksosok.blogspot.co.id http://kliksosok.blogspot.co.id/2008/02/imron-menghidupkan-kembali-atbm.html
Comments
Loading...