Kerajinan Sandal Bakiak Di Magelang

0 352

Kerajinan Sandal Bakiak Di Magelang

Di tengah perubahan zaman yang menuntut serba modern, Jawadi, seorang pembuat sandal tradisional tetap bertahan. Alasan keberlangsungan hidup dan melestarikan sandal tradisional membuatnya tetap menggeluti usaha ini. Meskipun, rupiah yang didapatkannya tidak seberapa, pria berumur 50 tahun ini mengaku puas dengan karyanya.

Tangan keriput Jawadi tampak sibuk mengamplas sebuah kayu berwarna putih kekuningan di tengah pasar tradisional Muntilan, Kabupaten Magelang. Kayu yang dibentuk alas kaki itu, dihaluskannya di setiap sisi. Sementara, setelah kayu itu halus, Jawadi lalu memasang potongan ban bekas dengan paku kecil.

Bola mata Jawadi lalu mengamati dengan seksama sandal kayu yang biasa disebut sandal teklek itu. Senyum mengembang tatkala sandal buatannya itu halus dan sempurna. Sementara, dia tetap melanjutkan mengamplas sandal itu jika dirasakannya belum halus. Begitu seterusnya Jawadi membuat sandal hingga sekitar 10 pasang.

Menurut warga Jatimulyo, Dinglo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, sandal teklek itu merupakan sandal khas orang tradisional Jawa. Sandal ini menurutnya, juga merupakan identitas orang zaman dulu.

Berawal dari cita-cita sederhana untuk bertahan hidup dengan sejahtera, Jawadi mulai mengembangkan sandal buatannya itu dengan berguru pada ayahnya, Ngabit yang lebih dahulu memiliki usaha serupa. Usai mendapat ilmu untuk membuat kerajinan sandal teklek itu, perjuangan Jawadi dimulai.

Dia kemudian menjual secara berkeliling sandal tradisional itu dari Yogyakarta ke Kabupaten Magelang. Alasan menjual ke wilayah Magelang, menurutnya, karena tidak banyak pesaing di wilayah ini. Sementara, di wilayah Yogyakarta, pembuat sandal tradisional itu sudah sangat banyak.

Selain menjual ke Candi Borobudur dan pasar tradisional seperti Muntilan, dan Talun, Jawadi juga pernah mendistribusikan produknya ke Salaman dan Kaliangkrik. Tak jarang, karena sandal tradisional itu menjadi barang yang khas, wisatawan asing banyak yang membelinya.

Untuk membuat sandal tersebut, Jawadi memakai kayu kluwih dan weru yang sangat mudah didapatkan di desanya. Biasanya, dia membeli kayu batangan dengan harga Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per batangnya.

Satu batang kayu, ujarnya, bisa dipergunakan untuk membuat sandal hingga 200 pasang. Termasuk, dia mengunakan ban bekas sepeda onthel sebagai pengait sandal tersebut.

Meski peminat sandal ini terus menurun seiring berkembangnya sandal dari bahan kulit, karet, dan plastik, dia tetap mempertahankan “kekhasan” itu.

Dengan peralatan sederhana berupa amplas, pisau, palu, paku, dan gendongan untuk membawa barang dagangannya itu, sandal buatan Jawadi nampak lebih unik dibandingkan dagangan pedagang lainnya.

Cobaan usahanya datang saat gempa bumi mengguncang wilayah Bantul tahun 2006 silam. Kala itu, rumahnya juga rusak terkena gempa tersebut. Meski demikian, dia tetap bertahan memproduksi sandal teklek.

Source http://jogja.tribunnews.com http://jogja.tribunnews.com/2014/09/09/jawadi-sejak-dulu-niat-ingsun-membuat-sandal-teklek?page=all
Comments
Loading...