Kerajinan Sandal Jepit Bulu Di Boyolali

0 419

Kerajinan Sandal Jepit Bulu Di Boyolali

Menjadi seorang ibu rumah tangga tidak menghalangi niat Tatik Haryati menghasilkan uang. Berbekal keterampilan menjahit, ibu satu anak itu tiap bulan mampu meraup omzet jutaan rupiah dari usaha home industri pembuatan sandal jepit bulu.

Ditemui di sela-sela gelaran Boyolali Food dan Fashion Festival 2017, Tatik mengaku, usahanya tersebut dia rintis sejak tahun 2011. Pasca melahirkan anaknya, dia ingin melakukan kegiatan menghasilkan uang, namun tanpa perlu mengganggu meninggalkan rumah dalam waktu lama.

“Dulu saya lulusan SMK jurusan tata busana di Salatiga. Begitu menikah, saya dikaruniai anak yang lahir prematur. Jadi sembari momong dan merawat anak, saya iseng-iseng menjahit di rumah. Semacam jadi hiburan dan hobi, tapi menghasilkan uang,” ujarnya.

Dalam membuat kreasi sandal jepit bulu, warga Perumahan Galih Asri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali ini mengerjakannya seorang diri. Tatik memanfaatkan limbah pabrik bahan baku pembuatan boneka, yakni rasfur, serta spon sebagai alas kaki.

“Dari menjahit, bordir, lem, hingga memotong saya lakukan sendiri di rumah. Biasanya pakai masker (penutup wajah) karena bahan rasfur ini kan menghasilkan banyak debu. Prosesnya dari nol sampai jadi bisa membuat 100 buah sandal dalam waktu tiga hari,” terang perempuan bersuamikan seorang kepala toko bernama Nurwanto Al Amin ini.

Menyasar anak-anak dan keluarga, sandal kreasinya itu memiliki karakter tokoh kartun pada sisi jepitnya seperti Shaun The Sheep, Hello Kitty, koala, panda, kelinci, anjing maupun binatang peliharaan lucu lainnya. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu untuk ukuran dewasa.

“Sandal bulu ini digunakan untuk aktivitas santai di rumah. Menjadi alas kaki untuk menghindari lantai keramik rumah yang dingin. Apalagi kalau tinggal di daerah Ampel dan Cepogo di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, sandal ini sangat cocok dan nyaman untuk kesehatan,” beber Tatik.

Menurut perempuan yang ikut dalam organisasi IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Boyolali ini, pemasaran produknya masih terbatas di Boyolali. Selain menitipkan ke toko-toko maupun swalayan, Tatik juga memasarkannya memanfaatkan media sosial (medsos).

“Biasanya jualan di Car Free Day maupun ikut pameran UMKM semacam ini. Enggak kejar target omset bulanan. Karena niat awalnya untuk hiburan sebagai ibu rumah tangga. (Kredit perbankan?) Belum terpikirkan. Yang penting tercukupi, modal kembali,” pungkas Tatik, yang memajang sekitar 200 sandal bulu dalam Boyolali Food dan Fashion Festival 2017 di halaman kantor Setda Boyolali, 21-22 Oktober.

Source https://jateng.merdeka.com https://jateng.merdeka.com/ukm/mulanya-hanya-iseng-ibu-di-boyolali-ini-kantongi-omzet-jutaan-rupiah-171022b.html
Comments
Loading...