Kerajinan Sandal Karung Goni Di Prajuritkulon

0 141

Kerajinan Sandal Karung Goni Di Prajuritkulon

Alas kaki buatan Joko Purnomo warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto saat ini sudah tembus pemasaran kota-kota besar di Indonesia.

Padahal dulu untuk biaya sekolah, ia harus membantu tetangganya membuat alas sepatu, namun kini ia sudah bisa produksi sendiri dan punya karyawan.

Di salah satu kios Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST), Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto terlihat tampak berantakan. Di sisi utara, tampak beberapa pasang alas kaki berupa sandal dan sepatu ditata rapi di atas rak yang terbuat dari kayu dengan aksen unik. Sementara di lantai tampak berserakan karung goni yang sudah dipotong sesuai ukurannya.

Di pojok timur, tampak pemilik kios tenggah menjahit sepatu dari salah satu pemesan yang harus diselesaikan. Selain di kios PPST, Polenk (panggilang akrab Joko purnomo) juga memproduksi alas kaki berbahan karung goni di rumahnya di Kota Mojokerto. Lulusan salah satu Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) dengan jurusan Informatika ini, mengaku nekat terjun ke dunia kerajinan alas sepatu sejak tahun 2012 lalu.

“Tapi awalnya sepatu sandal dari bahan jeans kemudian akhir tahun 2014 baru ke bahan karung goni, itupun masih tas bukan alas kaki. Sebenarnya, basic di kerajinan sepatu sudah ada sejak kecil karena saat SMP sudah bantu tetangga buat sepatu yang uangnya saya gunakan untuk biaya sekolah. Tapi bahannya seperti alas kaki pada umumnya, kulit dan kulit imitasi,” ungkapnya.

Berbekal nekat, ia terjun ke dunia alas kaki dengan hanya bermodal Rp1 juta. Namun karena alas kaki berbahan jeans tak lagi menjadi trend saat itu dan saingannya banyak, iapun harus memutar otak. Karena tak ingin produksi alas kaki sama dengan di daerah yang banyak ditemui pengrajin alas kaki, iapun melihat peluang ada di bahan karung goni.

“Darah seni ada di saya dan orang seni itu sukanya yang unik-unik. Ibaratnya Mojokerto ini warung, untuk mengisi warung ini diperlukan beberapa barang dagangan, tidak hanya menjual kopi saja. Jadi saya cari yang unik, punya ciri khas untuk melengkapi yang katanya kota Mojokerto sebagai kota alas kaki. Selain itu, saya ingin mandiri, tidak mau ikut orang, apalagi terikat,” katanya.

Drummer Mesin Sampink, band asal Mojokerto beraliran reggae ini mengungkapkan, untuk saat ini bahan karung goni cukup mudah didapat. Jika di Mojokerto tidak ada, bapak satu anak ini harus ke Surabaya. Sementara untuk pemasaran, ia pasarkan melalui online maupun komunitasnya. Karena ia mengaku punya komunitas vespa yang banyak anggotanya.

“Komunitas vespa itu identik dengan musik reggae serta keunikan sehingga melalui teman-teman inilah produk saya bisa dikenal, selain saya sering ikuti pameran-pameran di sejumlah daerah. Biasanya, mereka datang kesini atau ke rumah beli yang secara tidak langsung dipromosikan. Dulu juga tidak punya pikiran, bagaimana kalau tidak laku dan alhamdulillah sekarang sudah punya kios meski sewa dan tiga karyawan,” tuturnya.

Menurutnya, dari tiga karyawan tersebut sudah diploting sendiri-sendiri termasuk dirinya yang turun langsung mengawasi. Namun, ia mengaku lebih di desain, jahit dan melayani konsumen. Sementara untuk pemasarannya, lanjut Polenk, sudah menjangkau beberapa kota besar di Indonesia. Diantaranya, Surabaya, Jakarta, Bali dan Padang.

“Saya produksi di dua tempat, di PPST digunakan untuk membuat model, jahit dan bertemu konsumen. Sementara di rumah lebih ke finishingnya, untuk produksi rata-rata per hari sebanyak 40 pasang. Saya tidak hanya melayani pesanan dalam jumlah banyak maupun partai tapi juga bisa beli secara eceran, saya juga sudah punya beberapa reseller,” ujarnya.

Polenk menjelaskan, jika ingin memesan dalam jumlah banyak, konsumen harus pesan dua minggu sebelum barang diambil. Tidak hanya melayani pesanan dengan desain yang sudah ada, iapun bisa menerima desain yang dibawa konsumennya. Selama satu tahun lebih, ia pernah mengerjakan pesanan paling banyak yakni sebanyak 200 pasang dari Bali.

“Sekarang, ada 15 desain sepatu untuk cowok dan 16 desain untuk cewek serta desain sandal untuk cowok dan cewek masing-masing delapan desain. Tapi kalau ditanya, jika ada tawaran Mesin Sampink manggung bareng dengan ada pameran alas kaki, saya masih pilih manggung meski ini sudah menjadi pekerjaan saya sehari-hari,” jelasnya.

Source http://beritajatim.com http://beritajatim.com/ekonomi/263316/bisnis_sandal__berbahan_karung_goni,_kini_punya_karyawan_sendiri.html
Comments
Loading...