Kerajinan Sandal Ukir Karakter Di Kota Malang

0 251

Kerajinan Sandal Ukir Karakter Di Kota Malang

Ujung solder yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, menjadi mata tatah bagi Sigit (40), saat mengukir sandal-sandal produksinya. Bahan spon karet yang sudah berbentuk tapak kaki, seolah kayu yang menampilkan goresan pahatannya.

Satu per satu aneka ukiran diselesaikan di setiap sandal dengan memanfaatkan panas dari mata solder. Panas ujung solder akan meninggalkan goresan dan cekungan warna cokelat kehitaman. Goresan-goresan itulah kemudian membentuk aneka ukiran berkarakter yang diinginkan.

“Sekitar 15 macam motif, paling banyak jenis bunga-bungaan, ada kartun Hello Kitty, Arema (kepala singa), mobil Jeep dan lain-lain,” kata Sigit di rumahnya, di Perumahan Sawojajar Kota Malang, Selasa (20/10).

Sigit juga menerima pesanan sesuai permintaan para pelanggannya, selain 15 motif yang dimilikinya. Hanya saja harganya sedikit berbeda karena harus menyesuaikan tingkat kerumitan. Jika masih standar dan tidak berbeda jauh, tidak akan meminta tambahan harga.Sudah 5 tahun Sigit menjalani bisnisnya, sebagai produsen sandal ukir. Bisnis itu ditekuni karena kepepet, tidak punya pekerjaan yang jelas. Semula pekerjaan Sigit sebagai pedagang sayuran di Bali, namun karena peristiwa Bom Bali I, memaksanya pulang dan menganggur.

“Tidak ada turunan bakat melukis, belajarnya otodidak, belajar sendiri karena kepepet saja,” katanya.

Proses pembuatan sandal ukir diawali dari pemotongan bahan spon karet sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Ada mal (bentuk) yang sudah disiapkan dengan mengacu besar dan kecilnya nomor sandal.

Lapisan pertama, spon warna cokelat yang ditempelkan pada spon warna hitam yang nantinya berfungsi sebagai sol sandal. Pada permukaan warna cokelat itu, Sigit akan mengukir.

Karena sudah terbiasa, Sigit begitu cepat menyelesaikan ukirannya, hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Setelah itu dilakukan pemasangan serampat atau klampir, sebelum kemudian dirapikan dengan ditutup sebuah lapisan sol dengan bahan yang lebih keras.

“Pemasangan tali serampat, pemasangan sol sampai penghalusan dari sisa rekatan dilakukan oleh karyawan. Saya hanya melukis saja,” kat ayah 2 anak ini.

Dalam sehari, Sigit dengan dibantu satu orang temannya berhasil menyelesaikan 30 sandal atau 15 pasang. Harga per pasang dijual dengan kisaran antara Rp 35 Ribu sampai Rp 45 Ribu.

Pesanan terus berdatangan, bahkan sampai menolak karena proses pembuatannya yang memakan waktu. Sigit mengaku tidak bisa menyerahkan pengerjaan orderan pada orang lain, khawatir pelanggannya kecewa. “Order untuk tahun baru, sekarang sudah masuk,” tegasnya.

Sigit mengaku kesulitan mencari tenaga kerja yang bisa membantunya mengukir sesuai seleranya. Belum menemukan orang yang sreg. Baginya mengukir sandal tidak sekadar menggoreskan mata solder, tetapi ada selera seni yang bisa memberi karakter di setiap sandal.

“Kesulitannya tenaga kerja yang menggambar. Kalau pemasarannya selama ini masih mudah-mudah saja,” katanya. Selama ini sandal ukir Sigit sudah dikirim ke Singkawang, Lombok, Jember, Blitar dan beberapa tempat wisata di Batu, seperti Jatim Park dan Museum Angkut.

Wiwit Wirahayu (29), salah seorang pembeli mengungkapkan, desain sandal karya Sigit terbilang sangat unik. Bahkan bisa dipesan sesuai dengan selera pembelinya.

“Motif sesuai keinginan bisa kita pesan. Sandalnya juga bertahan lama,” katanya. Selama ini, Wiwit membeli selain untuk dipakai sendiri juga dijual ke beberapa teman. Beberapa kali, sahabatnya minta dikirimi sesuai gambar yang dikirimkan melalui email.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/ukir-bunga-aneka-karakter-di-sandal-sigit-kebanjiran-order.html
Comments
Loading...