Kerajinan Sapu Lidi Di Cikarang

0 343

Kerajinan Sapu Lidi Di Cikarang

Kampung yang terletak berbatasan dengan Kabupaten Karawang ini tepatnya di Kampung Gandaria, Desa Cipayung Kecamatan Cikarang Timur ternyata memiliki kekhasan. Kebanyakan warga menghabiskan waktu membuat sapu lidi sebagai penghasilan sampingan. Menurut penuturan, Ramlan, salah seorang warga. Jumlah pengrajin sapu lidi dikampungnya mencapai 25 rumah. Profesi ini sudah dilakoni warga selama puluhan tahun dan turun temurun.

Ramlan menjelaskan, kebanyakan yang membuat sapu adalah kaum ibu. Bahan bakunya mereka dapatkan dari daun kelapa yang sudah jatuh akibat mengering. Jika musim hujan seperti sekarang ini, mereka terpaksa harus membeli kepada pemilik pohon seharga Rp. 2.000, setiap batang daun kelapa yang sudah tua. Setiap batang, jika diuraikan bisa menjadi 3 buah sapu. Sebelum diubah menjadi sapu, batang-batang daun kelapa ini biasanya direndam terlebih dahulu di sungai selama 1-2 hari agar lidinya bisa kuat. Baru kemudian di jemur sampai kering. Proses pengerjaannyapun masih tradisional. Cukup menggunakan pisau untuk memisahkan daun dan lidinya. Kelihatannya cara pembuatan sapu lidi sederhana, tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Memisahkan daun dari lidi harus memiliki keahlian khusus. Jika tidak mahir, maka bisa-bisa tangan terkena pisau.

“Pertama belajar, tangan pasti luka. Kalau tidak kena pisau, kena daun atau lidinya yang tajam,” imbuh Iroh sembari memperlihatkan bekas luka gores ditangannya.

Setiap hari rata-rata satu rumah bisa menghasilkan 25-50 buah sapu lidi, yang dikerjakan rame-rame antara 3-5 orang. Jumlah produksi meningkat terutama pada waktu-waktu khusus seperti “tujuh belasan”, tahun ajaran baru dan bulan ramadhan. Harga jual sapu lidi bervariasi. Untuk sapu lidi ukuran kecil tanpa gagang dijual seharga Rp. 3.000 kepada para tengkulak. Untuk Sapu lidi ukuran besar tanpa gagang harganya Rp. 3.500. Dan yang menggunakan gagang harganya Rp. 5.500. Jika dijual sendiri harganya lebih mahal. “Kadang ada pedangang yang datang, kadang kita jual sendiri ke pasar atau keliling,” ujar Damroh.

Damroh menuturkan, jika tidak ada kerjaan, suaminya pergi memasarkan sapu lidi secara keliling dengan sepeda. Wilayah jualannya bukan hanya di Cikarang Timur, tapi sampai Tambun dan Cibitung. Harganya lebih tinggi dari yang biasa dijual ke tengkulak. Tergantung tawar menawar dengan pembeli. “Kalau pas rezekinya, bisa tiga-empat kali lipat dari harga jual ke tengkulak,” terang Damroh.

Membuat sapu lidi memang bukan pekerjaan pokok bagi warga kampung. Kedati begitu, sejauh ini sudah sangat membantu ekonomi keluarga dan biaya sekolah anak-anak mereka. Sayangnya, tradisi membuat sapu lidi terancam putus karena tidak adanya generasi yang melanjutkan. “Anak muda sekarang mana mau disuruh bikin sapu,” sela Ramlan.

Source http://jelajahbekasi.blogspot.co.id http://jelajahbekasi.blogspot.co.id/2010/10/mengantungkan-hidup-dari-sapu-lidi.html
Comments
Loading...