Kerajinan Sapu Lidi Di Lumajang

0 346

Kerajinan Sapu Lidi Di Lumajang

Satu persatu tumpukan daun kelapa itu dirautnya.  Dengan sangat telaten tangan,  tuanya memisahkan lidi dari daun kelapa yang sudah mengering.  Selesai diraut, lidi-lidi itu pun diikat menjadi sapu. Itulah sosok Saerah, nenek tua pembuat sapu lidi, asal Dusun Tempurejo Timur, Desan Tempurejo, Kec. Tempursari, Kab. Lumajang.

Nenek yang biasa disapa Mbah Rah mengaku, sudah 30 tahun menekuni pekerjaannya. Tepatnya, sepeninggal sang suami. Dulu, nenek bercucu 3 ini bekerja buruh tani. 

Di rumahnya yang berdinding kusam, nenek 78 tahun ini tinggal sendiri. Ketiga anaknya telah berkeluarga. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, dia mengandalkan penghasilan dari sapu lidi. Bahan lidi peroleh dengan  mencari daun kelapa yang  jatuh dari pohonnya. Daun kelapa tua yang disebut blarak berasal dari kebun kelapa di sekitar rumahnya, yang tidak diambil oleh pemilik kebun.

Setelah blarak dipisahkan dari pelepah, lalu dibawa pulang untuk diambil lidinya. Kalau blaraknya banyak, sehari dia bisa menghasilkan 7 ikat sapu. Satu ikat sapu dijual  seharga Rp 1.250.  Dua hari sekali, sapu lidinya dijual ke pasar.

Untuk menjual 10 – 15 ikat sapu, Mbah Rah harus bangun pagi. Sehabis shalat subuh, dia berangkat ke pasar berjalan kaki. Jarak pasar Tempursari dari rumahnya sekitar 5 kilo meter. Selain sapu,  terkadang dia membawa beberapa ikat daun pisang sebagai sampingan. Pulangnya, naik ojek motor.

Apa tidak berat membawa setumpuk sapu dan daun pisang saat ke pasar, selidik Sakinah. Kalau soal berat dan lelah, ujarnya, itu hal biasa. “Orang hidup jika ingin makan harus kerja. Bekerja memang berat. Yang penting kerja halal, pasti barokah,” papar nenek yang mengaku jarang sakit.

Di tengah pasar, sapunya dijajar di salah satu sudut emperan toko. Apabila ada yang pedagang sapu yang memborongnya, pagi itu dia langsung pulang. Jika  sedang sepi pembeli, sampai siang hari dia baru bisa pulang, sambil membawa sisa sapu yang belum laku.

Sepinya pembeli, menurutnya, karena jaman sekarang telah banyak orang yang memakai sapu plastik di rumahnya. Kalau ada sapu lidi, bentuknya pun diubah lebih bagus: diberi pegangan kayu dan terbuat dari lidi pilihan. “Tapi aku tetap percaya, rejeki itu Gusti Allah yang mengatur. Karenanya, aku akan membuat sapu sampai kapan pun,” tandasnya mantap.

Diceritakan, sekedar irit ongkos ojek, suatu kali dia pernah menumpang sepeda motor tetangganya yang kebetulan pulang dari pasar. Namun naas, selendang yang biasa dikenakan untuk menggendong sapu, tersangkut di rante motor. Seketika itu juga, dia bersama tetangga yang memboncengnya terjatuh. “Aku kasihan dengan tetanggaku. Dia terpaksa keluar uang untuk mengobatiku. Hasil jualan sapuku nggak cukup untuk berobat,” kenangnya.

Acapkali ketiga anaknya mengajak Mbah Saerah tinggal serumah. Tapi nenek yang pengelihatannya agak kabur ini selalu menolak. Alasannya,  dia tidak mau merepotkan anaknya. “Selagi aku masih kuat mencari nafkah, aku nggak mau merepotkan anak-anakku. Bila ada rejeki lebih, aku malah ingin  memberi untuk cucuku,” papar nenek yang kini telah mendapat bantuan raskin dan dana sosial dari pemerintah.

Mbah Saerah adalah sosok teladan yang hidup. Kesederhanaan, keluguan, keimanan, dan kemandiriannya dalam mengarungi kerasnya kehidupan, sungguh patut ditiru.

Source http://www.sakinahpenyejukjiwa.com http://www.sakinahpenyejukjiwa.com/2016/11/20/mbah-saerah-perajin-sapu-lidi-kerja-yang-halal-pasti-barokah/
Comments
Loading...