Kerajinan Sarung Goyor Di Sragen

0 238

Kerajinan Sarung Goyor Di Sragen

Nama sarung Goyor Sambirembe tidak akrab di telinga banyak orang Indonesia. Padahal, sarung tenun produksi Dukuh Wonosari, Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini sudah membuat banyak konsumen mancanegara jatuh hati.

Goyor Sambirembe memang kalah populer dibandingkan produk batik Laweyan, Solo. Diproduksi masyarakat kelas bawah, lokasi pembuatan sarung ini hanya gubuk setengah terbuka dengan atap genteng tua yang tampak hitam berlumut dimakan usia, terletak di bantaran kali dekat rel kereta api. Sri Waluyani, seorang perajin tenun yang bekerja di situ.

Namun, gubuk tua itu telah menggemakan nama Indonesia hingga ke Somalia, Afrika. Hasil kerja Sri Waluyani dan sejumlah perajin di Desa Dukuh sangat digandrungi warga Somalia. Mungkin karena ketebalan hasil tenunan. Ketertarikan orang Somalia pada sarung Goyor terutama karena kemiripannya dengan jenis pakaian yang biasa dipakai warga negara tersebut. Tebal, hasil tenunan yang rapat dan corak warna khas sana. Juga karena hangat kalau musim dingin dan sejuk kalau musim panas.

Kopinka Agawe Makmur selama ini memayungi sarung Goyor Kalijambe dan berhasil mempromosikan sarung merek arber ke Somalia. Dari total ekspor sekitar Rp 160 miliar per tahun, lebih dari separuh ditujukan ke Somalia. Pangsa pasar sarung Goyor di Somalia pun kalangan menengah ke atas. Tak heran jika Duta Besar Somalia di Indonesia, Muhamud Olow Borow, harus melihat sendiri gubuk tua di jalan kecil tersebut pada 2011 lalu.

Hanya sebagian kecil sarung Goyor diekspor ke Turki dan beberapa negara lain di Afrika. Itu pun menyebar setelah masuk melalui Somalia terlebih dahulu. Kalau untuk dalam negeri memang tidak cocok dengan sarung Goyor. Mungkin karena beda iklim dengan Somalia.

Harga yang berkisar Rp 150.000–Rp 300.000 dianggap tidak pas untuk penduduk Indonesia. Tetapi, harga benang dan ongkos produksi tak sebanding jika harus menurunkan harga. Apalagi untuk menenun butuh waktu paling cepat dua hari untuk satu ukuran tenunan 140 x 400cm jika musim kering, atau empat hari jika musim hujan dengan kondisi bolam lampu terus menyala.

Menenun sarung Goyor dimulai dengan menggambar pola benang, menyusun pengikatan/talen dengan tali rafia, memastikan pewarnaan, lalu pemintalan benang. Semua proses tentunan dilakukan secara manual, tanpa mesin. Bahkan untuk menyeimbangkan pedal, sejumlah batu diikat dengan tali yang berasal dari kain-kain bekas. Sebelum anak panah dilempar dari kiri ke kanan atau sebaliknya, kekompakan kaki dalam mengayun pedal yang ditimbang dengan batu atau potongan kayu akan sangat menentukan kerapatan benang.

Ia menuturkan, dulu waktu ia masih kecil, banyak perajin tenun di desanya yang umumnya kaum perempuan. Namun, seiring makin banyaknya produk sarung yang bisa dihasilkan secara massal oleh perusahaan-perusahaan, minat warga untuk menenun terus berkurang. Beruntung, sarung Goyor bisa terbang ke Somalia dan negara-negara di Timur Tengah.

Sarung Goyor, pernah mengalami masa jaya zaman Presiden Soekarno. Saat ini, Tuti dan rekan sebayanya mendirikan kelompok tenun yang oleh Muhammad Hatta dikatakan koperasi. Kelompok tenun itu tak hanya terdapat di Desa Dukuh, tetapi juga desa-desa lain. Tak hanya di Kabupaten Solo, tetapi Solo Raya umumnya.

Source https://www.ketikketik.com https://www.ketikketik.com/ekonomi/bisnis/2014/09/13/tenun-sarung-goyor-kalijambe.html
Comments
Loading...