Kerajinan Sarung Tenun Di Mamasa

0 448

Kerajinan Sarung Tenun Di Mamasa

Nenek Mentodo’, begitu dia biasa disapa, selalu sedia jerangan air di dapur. Padahal, perempuan 90 tahun itu tak pernah tahu kapan bakal ada tamu. Rebusan air biasa dipakai terutama untuk menyajikan kopi.

Di Dusun Tambun, Desa Bambapuang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Nenek Mentodo’ generasi tertua yang masih hidup. Umurnya terulur melewati beberapa zaman. Ketika Jepang menduduki Indonesia, dia sempat dipaksa menjadi penari penghibur serdadu Nippon.

Untuk melihat koleksi sarung tenun miliknya. Maksud tersebut tak salah alamat. Sebab, dia penenun tertua di Desa Bambapuang. Selain melahirkan banyak penenun lebih muda, Nenek Mentodo’ menghasilkan kain-kain istimewa.

“Ini khusus hanya bisa digunakan oleh kalangan ningrat,” ujarnya seraya membentangkan kain hitam dan putih setelah mencomotnya dari sebuah tumpukan. Yang hitam disebut Sambu Bembe Lotong, dan yang putih dilabeli Bembe Busa.

Di masa lampau, orang harus menyediakan seperempat kerbau untuk mendapatkan satu sarung tersebut. Kepemilikan pun hanya dimungkinkan bagi yang telah melakukan upacara kematian, yang dalam bahasa setempat disebut ma’allun, ritus dengan tahapan tertinggi bagi Mamasa.

Beberapa kain lain tak luput dari penjelasannya. Dia menjelaskan pula motif dan corak yang menghiasi tiap kain. Sembari mengeluarkan satu tas berwarna merah muda, dia mengatakan kain-kain sengaja dipersiapkan sebelum dia meninggal.

Tas barusan berisi baju, kain tenun, dan sejumlah perhiasan dari manik-manik. Juga ada sepu’, tas khas Mamasa. Nenek Mentodo’ menyiapkan pula seuntai kalung emas. Dia menyebut kalung itu manik parepassang. Konon nilainya cukup untuk menebus seekor kerbau.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/kain-warisan-dan-perlengkapan-kematian-orang-mamasa
Comments
Loading...