Kerajinan Sarung Tenun ‘Lawang Mas’ Di Malang

0 118

Kerajinan Sarung Tenun ‘Lawang Mas’ Di Malang

Kabupaten Malang ternyata memiliki pabrik sarung legendaris. Namanya, Sarung Tenun Lawang Mas, terletaknya di Jalan Dr. Soetomo Kecamatan Lawang. Lokasinya bersebelahan dengan Fly Over Lawang. Sarung Tenun legendaris ini sudah berdiri sejak tahun 1940 dan masih eksis hingga sekarang. Sarung tenun itu milik warga keturunan Arab benama Assegaf.

Lantaran menyandang predikat sebagai sarung legendaris, maka pembuatannya juga menggunakan mesin kuno. Assegaf memiliki beberapa mesin tenun tua, penggunaannya secara manual. Mesinnya berjajar rapi di bangunan lama yang digunakan untuk memproduksi sarung tersebut. Setidaknya ada delapan mesin tenun di tempat itu. Mesin tenun itu digunakan membuat sarung dengan bahan dasar benang.

Menurut Assegaf, ada tiga jenis sarung yang dibuatnya. Pertama Sarung Tenun Sutra, kemudian Sarung Tenun Goyor serta Sarung Tenun Kembang. “Kalau yang paling diminati adalah Sarung Goyor ini. Karena kainnya dingin dan tidak kasar. Selain itu, kondisi kainnya juga tidak kaku,” ujarnya.

Untuk membuat satu sarung tenun, kata dia, rata-rata membutuhkan waktu setidaknya seharian penuh. Maklum, peralatan mesin yang kuno memang membutuhkan waktu lama. Belum lagi yang mengoperasikan mesin terebut, adalah para orang usia lanjut. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam membuat sarung tenun tersebut.

“Dalam seminggu ia bisa membuat sarung rata-rata sebanyak tujuh hingga delapan buah,” kata pria berusia 69 tahun ini.

Satu sarung tenun itu, dijual seharga Rp 120 ribu. Sedangkan untuk pembelinya mayoritas adalah para pedagang Makam Sunan Ampel di Kota Surabaya. Kemudian sarungnya dijual kembali kepada peziarah.

“Kalau pemesanannya, harus dilakukan sejak jauh hari. Karena dibutuhkan waktu untuk proses pembuatannya,” terangnya.

Lanjut Assegaf, pembuatan sarung yang digunakan untuk Lebaran, biasanya sudah dipesan sejak jauh hari. “Biasanya enam bulan sebelum bulan Ramadan sudah banyak yang pesan. Karena membuatnya manual, makanya dibutuhkan waktu. Bulan Ramadan ini, biasanya pemesannya antara 30-80 buah untuk sarung tenun manual,” tuturnya

Sedangkan pemesanan biasanya rata-rata mencapai per bulan mencapai 10-15 buah. Ia mewarisi usaha ayahnya bernama Abdurahman ini juga membuat sarung dengan mesin otomatis.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/features/sarung-tenun-lawang-mas-berkarya-dengan-nafas-terakhir
Comments
Loading...