Kerajinan Senapan Angin Di Cipacing

0 117

Kerajinan Senapan Angin Di Cipacing

Rumah sederhana itu berada di sebuah gang di daerah Cipacing. Dari kejauhan warnanya terlihat mencolok. Hijau. Dindingnya sebagian masih berupa perpaduan kayu dan anyaman bambu. Ada sebuah teras mungil di depannya. Di sana bercokol sebuah bor duduk. Sedangkan beberapa perkakas berserakan di sekitarnya. Rumah itu milik Subandi.

Sang pemilik nampaknya menggunakan peralatan itu dengan sebaik mungkin. Di antaranya terlihat sudah uzur. Seolah menjadi teman setianya mengarungi hidup sebagai seniman senapan angin.

“Anak-anak sekarang enggak ada yang betah bikin senapan angin. Malas. kerjasebentar, udahan,” kata Kang Bandi, sapaan akrabnya.

Keluhan Subandi adalah curahan hati. Dia tidak tahu lagi kepada siapa bakal menurunkan ilmunya. Anaknya juga tak ada yang berminat mewarisi.

Dia adalah potret seorang perajin senapan angin perorangan di wilayah itu. Sudah lebih dari dua dekade dia berkutat dengan dunia bedil. Ruang kerjanya punya banyak fungsi. Juga menjadi tempat bercengkrama dengan tetangga dan keluarga. Di sana terserak beberapa perkakas seperti kunci-kunci, tang, kikir, serta mur dan baut. Semua diwadahi kotak kayu. Dulu dia punya anak buah, kini tidak lagi. Jelaga hitam nampak di tangannya saat kami temui.

Nama Cipacing masih menjadi jaminan kualitas senapan angin, meski kini juga bikinan luar negeri berbanderol lebih miring membanjiri pasar lokal. Pembuatan senapan angin di Cipacing dilakukan terbuka. Sepanjang jalan hanya satu toko menjual senapan angin bersebelahan dengan bengkelnya. Sisanya dibuat di dalam rumah-rumah warga di gang sempit. Bengkelnya bisa di mana saja. Di samping dapur pun jadi, asal muat.

Di usia senja, Bandi kini cuma bisa membikin satu senapan dalam sebulan. Bagi dia, hal itu bukan cuma pekerjaan, tetapi dedikasi. Seni membikin senapan angin dia dapat dari seseorang. Mulanya dia cuma kenek. Lambat laun, dia memberanikan diri minta diajari ilmu itu. Akhirnya setelah moncer, dia memutuskan membuka usaha mandiri.

Hanya saja, Bandi memutuskan menjadi spesialis senapan angin sistem kokang pompa. Meski sekarang perajin lain membikin model tabung. Soal modal menjadi penghalang utamanya. Dia tidak cuma menerima pesanan, tapi juga menjadi montir buat perbaikan. Di warga sekitar, pekerjaannya dikenal rapi dan tepat waktu. Maka tak heran dia kerap disambangi para pehobi senapan angin.

Para perajin dulu biasa kulakan bahan-bahan di Pasar Jatayu, Bandung. Logam mereka borong biasanya berupa kuningan, alumunium, dan besi. Semua punya peran masing-masing dalam sebuah senapan angin. Sedangkan soal sistem kerja ada dua. Yakni dipompa atau dengan gas (PCP). Model terakhir dijual lebih mahal, kira-kira Rp 5 juta, karena komponennya mesti diimpor dari Taiwan dan pembuatannya lebih rumit. Gas itu bertugas melontarkan pelor lebih cepat.

Bahkan, senapan gas juga bisa ditembakkan berkali-kali tanpa perlu dikokang. Namun pelor tak bisa dimuntahkan berentet. Mau ditembakkan sesekali juga bisa. Asal gas masih ada dan stabil. Gas itu bisa diisi ulang. Para perajin menyarankan menggunakan gas dari tabung buat selam karena lebih stabil. Kalau tak ada, silakan diisi menggunakan pompa tangan.

Sedangkan perajin popor dan badan senapan angin tersendiri. Mereka melayani pesanan bentuk dimau pembuat senapan. Kadang mereka membuat kreasi sendiri. Lantaran isi senjata api rakitan ilegal dari Cipacing membikin susut para empu senapan, mereka banyak beralih mengerjakan benda seni.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/khas/resah-karena-tak-ada-pewaris.html
Comments
Loading...