Kerajinan Seng Di Bojonegoro

0 381

Kerajinan Seng Di Bojonegoro

Usia senja tidak menghalangi Kasiran,  warga Desa Dengok, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, untuk tetap produktif. Dia tekun menjadi perajin seng dan perkakas rumah tangga di rumahnya yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo. Kasiran sebenarnya mempunyai 4 anak, 9 cucu, dan 1 buyut. Mbah Ran, panggilan akrabnya, tinggal sendirian karena anak-anaknya lebih memilih bekerja di luar kota. Sementara istrinya telah lebih dulu wafat beberapa tahun silam.

Dia tekun membuat kerajinan dari seng itu di rumah sederhananya. Beberapa pekerjaan berat, seperti menggunting dan membentuk pola pada seng dan alumunium, dia kerjakan sendiri. “Belum ada yang mewarisi keahlian ini,” ungkapnya. Mbah Ran setiap hari membuat alat-alat dapur, seperti cetakan roti, pan (oven roti), porong (tempat membuat kopi kotok), gembor (ciduk untuk menyiram bunga), blek (tempat kerupuk), tempat bakar sate, panci, anglo, dan kompor minyak tanah.

Dia juga menerima pesanan servis dan pembuatan alat dapur yang lain. “Asal ada gambar terbuat dari alumunium dan seng, Mbah pasti bisa mengerjakan,” tuturnya. Mbah Ran yang juga memiliki keahlian pijat dan menyembuhkan orang terkilir ini menjelaskan, dari setiap alat dapur yang dibuat, dia hanya menggunakan alat manual sederhana, seperti gunting seng dan palu.

Meski dikerjakan sendiri, dia tetap masih bisa menyelesaikan setiap pesanan. “Tidak ada yang membantu karena memang jarang ada yang telaten,” ucap dia. Dari beberapa alat dapur yang dia buat, sebagian dijual di toko di Cepu dan Padangan. Seperti gembor, anglo, panci, dan porong sudah ada pesanan khusus dari toko tempat hasil kerajinannya dijual. Selebihnya karena usia yang sudah mulai mengurangi produktivitas, dia hanya menerima pesanan dan terkadang servis alat dapur yang rusak.


Dari sejumlah kerajinan yang dia buat, dia menjual dengan harga yang bervariasi. Untuk tempat kopi atau porong, dia menjual dengan harga Rp7.000/buah, gembor Rp15.000/buah, anglo Rp6.000- Rp10.000/buah, dan tempat bakar sate Rp15.000/buah. Untuk mengingat harga pun, pria yang mulai menekuni kerajinan alumunium dan seng sejak 1958 ini sudah mulai sulit dan butuh waktu lama.

Di usianya yang sangat senja dan mulai sulit mendengarkan ini, dalam sehari dia masih mampu menyelesaikan 4 buah gembor, 6 buah porong, 4 buah anglo, dan 5 buah tempat bakar sate. “Tergantung pesanan,” ucapnya. Mbah Ran menceritakan, saat masyarakat masih menggunakan kompor minyak tanah untuk kegiatan dapur, dia merupakan perajin kompor minyak tanah yang selalu ramai pesanan.

Sebab, selain membuat kompor, dia juga melayani servis kompor minyak tanah kalau rusak. Namun, saat kompor minyak tanah sudah mulai terlupakan, dia hanya memperbaiki kompor kalaukalau ada yang meminta diperbaiki. Mbah Ran berharap ada perhatian dari pemerintah berupa apa pun. Mengingat, meski hingga usia sesenja ini, selama dia bergelut dengan dunia kerajinan seng dan alumunium berpuluh-puluh tahun, tidak pernah ada sedikit pun perhatian dan bantuan pemberdayaan dari pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawangsa mengajak kepada seluruh keluarga di Indonesia agar lebih memperhatikan orang tuanya. Supaya orang tua tidak menjadi bagian dari lanjut usia (Lansia) yang terlantar. Karena menurut Khofifa, pada 2015 ini jumlah lansia di Indonesia yang terlantar mencapai 2.3 juta orang.

“Saat ini usia harapan hidup makin tinggi. Sehingga kecenderungan jumlah lansia makin tinggi pula. Tapi sayang sebagian orang tua memilih hidup dipanti lansia. Karena anak dan keluarganya kurang memberikan kasih sayang,” ungkap Mensos.

Source https://daerah.sindonews.com https://daerah.sindonews.com/read/986544/151/kasiran-tetap-produktif-menjadi-perajin-seng-1428462751
Comments
Loading...