Kerajinan Seni Artjog Di Yogyakarta

0 114

Kerajinan Seni Artjog Di Yogyakarta

Nama Mulyana Mogus banyak dikenal usai karya instalasi laut bertajuk Sea Remembers miliknya di Artjog 2018 menjadi pusat perhatian. Namun, tidak banyak orang mengetahui perjuangan Mulyana sebelum dikenal sebagai seniman rajut.

Moel, sapaan akrabnya, merupakan pria asli Bandung kelahiran 1984 yang menetap di Yogyakarta sejak 2014. Ia merupakan lulusan seni rupa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Sempat menempatkan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Moel memilih UPI Bandung sebagai tempat menimba ilmunya. Perguruan tinggi negeri jadi pilihan wajib agar tidak terbebani biaya yang mahal.

Seperti lulusan-lulusan ponpes umumnya, Moel sempat pula berniat mendaftarkan diri ke Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad). Pasalnya, bekal utama yang dimiliki lulusan ponpes biasanya Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Ia mengaku bersyukur telah diterima di UPI Bandung, mengingat tidak banyak lulusan pondok pesantren kala itu yang diterima perguruan tinggi. Terlebih, kampus seni memang yang telah diimpikannya sebagai tempat menimba ilmu setelah ‘mondok’.

Ya, Moel memang lulusan pondok pesantren. Tidak tanggung-tanggung, Pondok Pesantren Gontor yang menjadi tempat Moel menimba ilmu. Selama lima tahun, Moel menimba ilmu sembari menyalurkan hobinya.

Moel, jadi satu dari sekian banyak orang yang telah membuktikan pondok pesantren bukan tempat yang kaku. Justru, pondok pesantren merupakan tempatnya menyalurkan hobi-hobi, utamanya di dunia seni.

Seni, secara tidak sengaja telah menjadi semacam sarana penyembuhan tersendiri bagi Moel. Pasalnya, sejak kecil, Moel kerap mendapat ejekan-ejekan karena berbeda dari yang lain. Saat itu belum populer istilah bullying.

Saat SD, Moel kerap dipanggil Nyai Dasima oleh teman-temannya, yang mungkin karena laku tubuhnya yang memang lemah lembut. Hal itu berlanjut sampai SMP, karena Moel kerap diejek dan dipanggil-panggil dengan sebutan tante.

Tidak memiliki teman, seni jadi semacam pelarian tersendri. Ketika SD, Moel senang menari dan banyak mendapat teman dari sana. Pun ketika SMP, Moel yang gemar untuk menggambar banyak mendapat teman sehobi.

Setelah itu, Moel yang senang mengoleksi tazos, kerap mendaftar sendiri lomba-lomba merangkai tazos yang dulu populer di kalangan anak-anak Indonesia. Moel, sering tiba-tiba membawa pulang piala dan uang berkat menang lomba tazos.

Bahkan, Moel kecil sempat mewakili Jawa Barat, mengikuti lomba tazos nasional. Walau sendiri, tanpa ditemani dan tidak lagi mendapat juara, Moel mengaku senang dapat mengikuti lomba-lomba tersebut.

Lulus, Moel dimasukkan ke Pondok Pesantren Gontor. Di sana, ia tidak lagi mendapat ejekan-ejekan, karena memang banyak kewajiban yang telah diberikan kepada anak-anak. Di sana mental Moel ditempa.

Di Gontor, Moel merasa kedisiplinan, pelajaran-pelajaran, sampai hafalan-hafalan diterapkan sangat ketat. Uniknya, di tempat itulah Moel benar-benar bisa menyalurkan kreativitasya.

Maka itu, ia heran kalau ada orang-orang yang menduga pondok pesantren itu tempat yang jauh dari kreativitas dan seni. Sebab, justru di sana Moel mendapat banyak pelajaran-pelajaran seni.

Tiap tahun, Moel bersama teman-temannya malah mampu memamerkan hasil lukisannya, termasuk lukisan wajah-wajah kiainya sendiri. Tiap ada panggung gembira, Moel tidak ketinggalan menyalurkan kreativitasnya.

Source https://www.republika.co.id https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/18/07/01/pb6oke328-kreator-seni-rajut-artjog-asah-kreativitas-di-pesantren
Comments
Loading...