Kerajinan Seni Cethe Limbah Ampas Kopi Di Sidoarjo

0 290

Kerajinan Seni Cethe Limbah Ampas Kopi Di Sidoarjo

Endapan kopi dimanfaatkan Sasang Priyo Sanyoto, pemilik Refresho Kedai Kopi, untuk dijadikan karya seni lukis “Cethe” yang memiliki nilai jual pada berbagai macam media, salah satunya gelas. Di kedai kopi miliknya, ampas kopi tak selalu dibuang tapi dimanfaatkan untuk membatik atau nyethe. Sang pemilik kedai kopi ini berinovasi memanfaatkan ampas kopi untuk membatik pada media interior seperti keramik dan gelas kopi.

Kata nyethe sering terdengar di telinga masyarakat Jawa. Nyethe merupakan kegiatan mengoles endapan bubuk kopi yang sudah diseduh ke batang rokok, kemudian dibuat seindah mungkin seperti motif batik dan sebagainya. Namun, yang dilakukan Sasang berbeda dengan nyethe pada umumnya. Pasalnya, media yang digunakan bukan rokok lagi melainkan barang yang lebih memiliki nilai jual seperti cangkir, asbak, wallpaper, meja dan sebagainya.

“Saat ngopi sering nyethe di bungkus rokok atau koran. Akhirnya saya berpikir bagaimana kebiasaan ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi kegiatan yang lebih produktif, mulailah saya mencoba di media daun, kayu, dan cangkir,” ungkap pemilik Refresho Kedai Kopi yang berada di Jl. Gebang Raya AA 40, Sidoarjo ini.

Menurut Sasang sesuatu yang kurang terlihat berharga bisa menjadi sesuatu yang lebih indah dengan sedikit sentuhan. Sisa endapan kopi yang biasa terbuang bisa menjadi sesusatu penghias di berbagai media interior, sehingga memiliki konsep unik dan etnis sebagai pelengkap secangkir kopi.

Dengan latar belakang mengubah budaya “nyethe” menjadi kegiatan yang lebih produktif, cethe merchandise menjadi salah satu produk yang sangat unik, dengam mengusung tema Go Refresh Indonesia. CV. Refresh Indonesia membuat gallery khusus cethe yang bisa dinikmati berserta secangkir kopi di Refreho Kedai Kopi Sidoarjo.

Pada awalnya Cethe Merchandise hanya membuat satu produk dengan media kertas, daun dan berbagai media yang sudah jadi. Tetapi dalam perkembangannya, mempunyai ide lain yaitu cethe yang dikemas untuk hiasan dinding atau yang disebut wallpaper dan untuk menghiasi furniture yang berasal dari berbagai bahan seperti kayu, rotan, plastik, dan lainnya.

Sasang mengatakan menggunakan teknik yang dirahasiakan sehingga membuat hasil motif batik karyanya tidak luntur dan rusak ketika dicuci, mengingat endapan kopi yang mudah dihilangkan atau terhapus. Pria asal Tulungagung ini mencampurnya dengan bahan lain agar tahan lama. Untuk membuat bahan cethe yang siap dioleskan, ampas kopi harus dikeringkan terlebih dahulu agar hasilnya optimal, baru endapan kopi dirungkan ke wadah dan dicampur dengan lem, sedikit air dan menggnakan teknik yang tidak ia beberkan.

“Untuk cethe menggunakan lidi, karena keunikan cethe sendiri pakai lidi atau silet bukan pakai kuas, itu yang membedakan dengan lukisan. Setelah itu baru kita mencoret ke media dengan menggunkan lidi. Ada banyak pilihan jenis kopi, mulai kopi hitam, kopi coklat hingga kopi hijau, ini menambah tampilan lukisan kian hidup dan indah,” terang Sasang.

Pesanan yang dia dapat semakin banyak dari beberapa kota di Jawa, termasuk Jakarta. Namum semua masih dikerejakannya sendiri, sehingga satu hari untuk barang-barang seperti gelas, hanya mampu membuat maksimal 10 piece.

Untuk melukis dengan media gelas dan sebagainya, Sasang butuh waktu satu hingga dua jam. Sementara untuk media yang lebih besar seperti meja dan wallpaper, ia butuh waktu lebih lama membuatnya. Selain itu, hasil kerasi lukisannya harus dikeringkan semalam. Untuk harga yang dipatok dari hasil karya buatan tangannya mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Source https://www.bangsaonline.com https://www.bangsaonline.com/berita/37985/manfaatkan-ampas-kopi-melimpah-untuk-karya-cethe
Comments
Loading...