Kerajinan Seni Decoupage Di Balikpapan

0 328

Kerajinan Seni Decoupage Di Balikpapan

Seni kerajinan decoupage tengah digandrungi masyarakat. Warna-warni yang indah dan bisa diaplikasikan ke media apa saja, membuat siapa pun akan jatuh cinta ketika pertama kali melihat.

Perkembangan seni kerajinan selalu berubah dari waktu ke waktu. Macam teknik dan rupa maupun media pembuatan berkembang mengikuti perkembangan tren. Saat ini kerajinan decoupage tengah menjadi primadona di kalangan pencinta karya seni.

Arti kata decoupage berasal dari bahasa Prancis yang artinya memotong. Decoupage merupakan seni memotong bahan yang kemudian ditempelkan pada objek lain. Seni ini mulanya berkembang di Prancis dan akhirnya berkembang ke penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Di Balikpapan, seni ini tengah booming beberapa bulan belakangan. Salah satu yang menggeluti usaha ini adalah Desi Ariani. Berawal dari hobinya yang menyukai membuat kerajinan unik, sekarang Desi serius menekuni kerajinan decoupage. Bahkan telah menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Kepada Kaltim Post, perempuan berkacamata ini berbagi pengalamannya. Sejak 2 tahun yang lalu ia mulai mempelajari teknik pembuatan kerajinan ini di Jakarta. Setelah dirasa cukup memiliki kemampuan, pada pertengahan 2015, ia memutuskan untuk membuat produknya. Modal awal satu juta rupiah dipergunakan untuk membeli bahan baku.

Objek pertama yang dijadikan permulaan produksi adalah tas anyaman dan clutch (berupa tas kecil yang digenggam). Setelah itu kemudian dipasarkan melalui media sosial. Ternyata respons masyarakat belum terlalu bagus. Pada waktu itu masyarakat Balikpapan masih awam tentang kerajinan ini. “Walaupun begitu ada teman saya dari Prancis yang langsung memesan tas buatan saya,” ucapnya bersemangat.

Meskipun penjualan belum sesuai target, ia tak patah semangat. Di rumahnya yang sekaligus menjadi workshop, wanita ini terus meningkatkan kemampuannya memproduksi produknya. Kerja kerasnya pun saat ini mulai membuahkan hasil. Masyarakat mulai mengenal dan tertarik dengan hasil kerajinannya.

Setelah menceritakan pengalaman merintis usahanya, Desi dengan ramah menjelaskan macam cara, alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan. “Teknik pembuatan decoupageyang berkembang saat ini banyak. Tapi, yang biasa saya gunakan adalah teknik menempel untuk basic on clutch, yaitu teknik menempel kertas atau tisu ke media aplikasi,” jelasnya.

Ada juga 3D clay on canvas, yakni teknik membubuhkan clay pada kertas atau tisu bermotif untuk memberikan tekstur di permukaan objek yang ingin dihiasi. Lalu, sospeso transparente, yaitu teknik memotong thermal film kemudian setelah itu potongan tadi ditekan menggunakan burin yang berfungsi membuat potongan tadi terlihat bervolume.

Untuk alat-alat yang dipergunakan adalah gunting, kuas untuk mengecat, hairdryer(pengering rambut) dan burin (alat yang digunakan untuk membuat decoupage dengan teknik sospeso transparente/3D).

Selanjutnya, untuk bahan yang diperlukan adalah kertas khusus. Bermacam motif dan warna, tisu decoupage aneka gambar, lem khusus decoupage untuk menempel kertas/tisu ke media aplikasi. Juga plastik thermal film, cat akrilik dan pernisuntuk tahap akhir agar gambar yang menempel di objek dapat terlihat menarik.

Produk yang ia hasilkan telah diikutsertakan dalam berbagai bazar dan telah menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan ritel. Dia juga sudah 5 bulan ini membuka kelas kursus bagi masyarakat yang tertarik untuk membuat kerajinan ini. “Saya ingin membagi ilmu yang saya punya ini supaya semakin banyak orang yang mau mencoba berwiraswasta nantinya,” ungkap perempuan keturunan Minang ini.

Sekarang dari hobinya tersebut, dalam sebulan ia bisa memperoleh omzet hingga Rp 10 juta. Suaminya juga sangat mendukung usaha yang dirintisnya. Bahkan terkadang suaminya tak segan turun langsung membantu dalam kegiatan produksi.

Dengan apa yang telah didapatnya saat ini, Desi memiliki cita-cita untuk memiliki sebuah tempat untuk dijadikan workshop dan menjual barang-barang hasil produksinya. “Saya juga berharap agar masyarakat lebih menghargai sebuah karya seni. Jangan menilai dari mahalnya sebuah karya, tapi coba hargailah proses kreatif dalam pembuatannya. Karena sebenarnya ide itu tidak ternilai harganya,” tutupnya.

Source http://kaltim.prokal.co http://kaltim.prokal.co/read/news/284068-hobi-yang-beromzet-puluhan-juta-rupiah.html
Comments
Loading...