Kerajinan Seni Liping Di Solo

0 211

Kerajinan Seni Liping Di Solo

Rongsokan, bisa berarti barang tak terpakai, sampah, atau benda-benda yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi. Maryono memiliki cara meningkatkan nilai ekonomisnya. Lelaki kelahiran Solo ini juga memiliki cara yang sederhana untuk mencari nafkah. Ia membuat seni liping, yaitu seni yang memadukan antara seni patung dan dekoratif ini dengan bahan-bahan campuran, bisa berupa batu, kerikil, bambu atau sampah-sampah yang tidak terpakai di sekitar rumahnya, termasuk rumput-rumput kering dan dedaunan yang jatuh ditepa angin.

Awalnya Maryono menjual karyanya sebesar Rp50ribu hingga Rp500ribu per buah. Penggemarnya para kolektor seni, atau setidaknya orang-orang yang memahami seni untuk mempercantik dinding rumahnya. Tahun 2004 ketika ia memulai usaha, omzetnya sudah mencapai Rp30juta per tahun. Kerajinan ini berbentuk miniatur aktivitas warga sehari – harinya yang disebut liping. Salah satu kreasi warga Jalan Kencur, Tenggosari Loweyan, Solo.

Selain miniatur bidak catur, karya lain yang juga mengagumkan adalah miniatur pagelaran wayang kulit. Maryono menyajikan miniatur ini secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang.

Menurut Maryono, kreasinya ini disebut kerajinan liping, yang merupakan pelesetan dari kata living. Sebab semua karyanya bercerita tentang kehidupan sehari – hari masyarakat tradisional, misalnya petani membajak sawah, mengembala bebek, orang menimba air disumur atau orang yang sedang kerokan.

Maryono mengaku usaha kerajinan ini dirintisnya sejak tahun 2002, namun baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Selain Solo, kerajinannya dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bali dengan harga dari mulai 25 ribu rupiah hingga 2 juta rupiah tergantung tingkat kerumitannya.

Source Kerajinan Seni Liping Di Solo Kerajinan Seni Liping Di Solo
Comments
Loading...