Kerajinan Seni Ukir Di Jepara

0 111

Kerajinan Seni Ukir Di Jepara

Seorang pengrajin seni ukir tentulah tidak lahir atau mendapatkan bakat tersebut secara instan. Perlu proses panjang, keuletan dan sikap tidak mudah menyerah untuk dapat menghasilkan karya yang membuat penikmatnya merasa kagum.

Itulah Prinsip yang dimiliki Fatoni pria kelahiran Jepara. Lahir di keluarga sederhana dan hidup di tengah lingkungan pengukir kayu. Membuat Fatoni kecil saat itu sudah akrab berteman dengan pahat dan Palu (amar).

Saat anak seusianya lebih senang memegang mobil-mobilan atau mainan robot, Fatoni kecil lebih senang menghabiskan kesehariannya dengan memegang dua benda tersebut. Bahkan bagi Fatoni kecil, menganggap mengukir adalah salah satu kegiatan bermain yang tidak bisa dilewatkan setiap hari.

Di bangku kelas 3 sekolah dasar, ia sudah mulai membuat ukiran pertamanya pada sebuah papan kecil sisa potongan mebel di sekitar rumahnya. Dari tangan mungilnya, ukiran demi ukiran berbagai motif ia ciptakan dari mulai motif bunga, abstrak, hewan, pemandangan alam bahkan ukiran sosok manusia.

“Saya mengukir sejak kecil tepatnya kelas tiga SD. Dari kecil memang suka karena tinggal di lingkungan pengukir. Jadi, seni ukir seperti ini memang sudah menjadi makanan saya sehari-hari,” tetangnya.

Saat berusia 20 tahun ia sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia hanya untuk memenuhi panggilan kerja beberapa tokoh atau orang penting yang ingin menggunakan jasanya seperti Bali, Banten, Lampung, Jakarta, Banjarmasin, Medan dan lainnya.

Sejumlah pejabat publik pernah menggunakan jasanya untuk menghiasi kediaman rumah mereka. Sebut saja Megawati, Budi Karya dan Surya Paloh.

Tidak hanya itu, artis kondang seperti Ian Kasela, Inul Daratista dan Ahmad Dhani pernah mempercayakan dirinya untuk menghiasi rumah yang ia tempati.

“Saya tidak bisa menyebutkan semua, yang saya ingat yang masih suka muncul di TV saja,” terangnya.

Bukan hanya lihai dalam mengukir saja, bahkan ia juga lihai dalam memahat patung. Namun ia tidak terlalu fokus mengembangkan bakatnya tersebut karena sejak kecil ia lebih tertarik dalam mengukir daripada melukis.

Job buat patung saya terima tapi untuk jenis patung hewan atau makhluk lain. Kalau patung manusia saya tidak berani pada bagian wajahnya karena bagian wajah harus sangat detail. Kalau salah kerutan sedikit saja kelihatan sudah beda dengan aslinya,” terangnya.

Menginjakkan kaki di Bumi Paguntaka adalah pengalaman pertamanya di dunia pengukiran. Kehadirannya di Kota Tarakan tidak terlepas dari ajakan rekan yang bersedia mengajaknya memakai jasanya. Di bengkel mebel ukuran 10×15 yang beralamat di Jalan Bismilah RT 19 Kelurahan Kampung Satu Skip. Meski baru menginjakkan kaki beberapa pekan, namun pesanan demi pesanan ukiran sudah banyak diterimanya.

Di Kota Tarakan ini, ia mencoba mengkampanyekan bahwa pintu bekas dapat menjadi kembali berharga jika dihiasi dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya dengan menambahkan ukiran pada pintu bekas tersebut.

“Di sini saya mencoba memperkenalkan masyarakat Tarakan bahwa pintu bekas juga bisa kembali menjadi berharga jika ditambah dengan ukiran. Jadi kalau ada orang yang pintunya rusak dimakan rayap atau sudah warnanya sudah pudar, kami akan mencoba membuatnya menjadi benda yang mempunyai nilai seni,” terangnya.

Selain mengkampanyekan pemanfaatan pintu bekas untuk menjadi benda bernilai, ia juga mengajarkan jika semua potongan kayu bisa menjadi benda berharga jika dimanfaatkan dengan baik.

Seperti sebuah bekas potongan kayu hasil tebangan warga Kampung Satu Skip, yang biasanya digunakan sebagai kayu bakar, ia sulap menjadi kursi dan meja mini dengan bentuk ukiran bunga yang sangat cantik.

“Biasanya kan orang di sini sisa kayu tebangan pohon itu dijadikan kayu bakar. Nah di sini saya mau memperkenalkan kalau kayu bekas tebangan pohon bisa dijadikan benda berharga. Seperti kursi ini,” tuturnya.

Source http://kaltara.prokal.co http://kaltara.prokal.co/read/news/22529-karya-fatoni-menghiasi-rumah-orang-orang-terkenal
Comments
Loading...