Kerajinan Sepatu Kain Di Bandung

0 236

Kerajinan Sepatu Kain Di Bandung

Entah angin apa yang membawa Lianna Gunawan berubah menjadi populer layaknya seorang selebriti ibu kota. Padahal, sekitar tiga tahun lalu kegiatannya lebih banyak dicurahkan hanya untuk mengamati persepatuan nasional dan internasional.

Mengamati mode dan perkembangan sepatu menjadi rutinitasnya, karena sangat menyukai model-model sepatu kaum Hawa yang konon khabarnya bisa memperindah kaki seseorang yang memakainya.

Media yang dijadikannya memonitor perkembangan itu tidak lain jaringan internet. Rezeki dan rahmat yang dilimpahkan Tuhan kepada Lianna memang sangat luar biasa, karena secara tiba-tiba berubah drastis dalam setahun sehingga predikat wirausaha pun kini melekat dalam dirinya.

”Tiga tahun lalu profesi saya hanya sebagai ibu rumah tangga meski sempat bertugas menjadi marketing perusahaan. Bisnis yang saya tekuni saat ini sebagai produsen sepatu lokal menggunakan bahan dasar kain tradisional dari seluruh Indonesia,” katanya.

Meski saat ini tergolong sukses, namun usaha Lianna berhasil justru karena sebelumnya tidak pernah direncanakan. Dari sekedar mengamati model sepatu berdasarkan hobi, lalu tmbul rencana membuat sendiri sepatu.

Akhirnya setiap sepatu yang diproduksi selalu bernuansa kain tradisional Indonesia di bawah brand La Spina Collection. “Sepatu La Spina itu merupakan hasil kerajinan tangan berdasarkan unsur kain tradisional yang digabung dengan karya seni.”

Lianna mengangkat kain tradisional menjadi kekuatan produk sepatunya, karena mempunyai keinginan besar mempromosikan kultur atau budaya Indonesia. Baik di negeri sendiri maupun di manca negara yang merupakan sebagai target utamanya.

Keunikan produk sepatu La Spina Collection adalah perpaduan seluruh bahan baku yang memiliki unsur seni seperti kayu, tikar hingga kain sulaman. Harganya sudah bisa dipastikan lumayan mahal.

Harga satu unit sepatu termurah yang dipasarkan sebesar Rp300.000, sedangkan nilai tertinggi mencapai Rp975.000. Sepatu semahal itu terbuat dari kayu mahoni ukir serta dilengkapi full leather.

Sepatu yang dikombinasi dengan karya seni kerajinan tangan diperkenalkan Lianna pada 2009. Namun ketika itu belum mampu menghasilkan produk masal seperti sekarang. Sebab, ketika itu kegiatan lain juga menjadi bagian dari aktivitasnya sebagai penghasil costum taylor.

Keterlibatan Lianna secara khusus dalam produksi sepatu efektif sekitar 14 bulan terakhir, akan tetapi konsumennya sudah cukup luas sehingga harus membuka bengkel di kota Bandung, Jawa Barat.

SDM pendukungnya memang belum besar, karena baru mempekerjakan sejumlah 20 orang, dan sebelum memiliki bengkel sendiri, operasional usaha Lianna berdasarkan order atau pesanan dari kosnumen.

”Ketika itu kami seakan bekerja seperti makelar saja. Ketika ada order, baru bekerja. Ketika belum ada pekerjaan, kami mencari-cari pekerjaan. Konsep kerja seperti sekarang ini pun berubah, karena sebelumnya saya menawarkan produk secara online,” ungkap Lilianna.

Minimal produksi yang dihasilkan La Spina Collection saat ini 700 pasang sepatu per bulan. Apakah Lilianna puas demean kinerja seperti sekarang karena dalam waktu relatif singkat dan mampu memproduksi 700 sepatu per bulan?

”Kalau kami sudah puas dengan jumlah itu dan berhenti, berarti kemampuan kami memang terbatas. Akan tetapi ingin mengembangkan  kapasitas usaha. Langkah berikutnya, wajib membuka pasar lebih luas,” tuturnya.

Seandainya order konsumen lebih dari kapasitas kinerja perusahaannya, Lianna siap menjalin kerja sama dengan bengkel lain yang memiliki core business sama. Mengandalkan koneksi kerja, dia optimistis bisa memenuhi permintaan pasar. Termasuk untuk ekspor sekalipun.

Prestasi yang ditampilkannya memang sangat luar biasa, karena belum lama ini La Spina Collection terpilih sebagai juara kedua Wirausaha Wanita 2012. Padahal dia menilai secara umum belum siap mengikuti lomba yang konteksnya wirausahawan.

Dan yang lebih mengejutkan dia, pada Oktober tahun ini terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti kontes wirausaha wanita internasional di Prancis. Sebagai catatan, Benua Asia hanya diwakili tiga peserta, dan salah satunya adalah Lianna.

“Saya terpilih mewakili Indonesia karena mengedepankan konsep usaha seperti sekarang. Pemilihan panitia bukan hanya berdasarkan produk sepatu. Lebih dari itu mereka tertarik dengan konsep gabungan antara produk sepatu dan budaya.”

Ketika dia diminta mitra lokalnya mengisi formulir kesertaan lomba, Lianna menulis konsep yang diusungnya dalam beberapa tahun ini. Dan ternyata goresan konsep tersebut memiliki daya tarik sehingga ditetapkan mewakili Indonesia.

Ketertarikan itu karena dia menggunakan seluruh kain tradisional Indonesia menjadi bagian dari produk sepatunya. Kain tradisional yang dimaksud di antaranya seperti ulos dari Sumatra Utara dan  seni ukir dari Jepara.

Ketika La Spina Collection mendapat penghargaan atas keikutsertaannya dalam satu pameran internasional di Jakarta, media massa seperti elektronik, cetak hingga radio dan online, terus menjadikan sosoknya menjadi sumber informasi atas kreativitasnya.

Selain mewakili Indonesia ke lomba wirausaha wanita internasional, wanita keturunan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini dalam waktu dekat akan mewakili salah satu perajin kreatif dari Indonesia ke Tokyo Gift Exebitions 2012 di Jepang.

Apakah dia bisa menikmati kesibukan yang saat ini sangat tinggi intenstitasnya? “Terus terang, ada perbedaan jam kerja ketika saya berstatus pegawai. Ketika itu bekerja 9 jam sehari. Saat ini hampir 13 jam, namun bisa lebih dinikmati,” ungkap Lilianna

Source https://tetapadapeluang.blogspot.com https://tetapadapeluang.blogspot.com/2012/06/lianna-merengkuh-rupiah-dari-sepatu.html
Comments
Loading...