Kerajinan Sepeda Kayu Unik Di Malang

0 144

Kerajinan Sepeda Kayu Unik Di Malang

Sumarno terlihat sedang sibuk di tempat dia berkarya, tepatnya di belakang rumahnya, Jalan Raya Bandulan 82 A, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Mengenakan kaus merah marun dan celana jins warna cokelat dan sandal jepit, alumnus Teknik Sipil Universitas Widyagama ini membersihkan lima sepeda kayu yang diberi nama Pit Kajeng. ”Pit itu berasal dari bahasa Belanda yang artinya sepeda, kalau kajeng itu kayu,” kata Sumarno.

Sepeda-sepeda itu bentuknya mirip motor Harley Davidson berjenis Chopper. Sedangkan sepeda kayu yang dibuat Sumarno merupakan Chopper Hunter dan Tracker. Yang mana beda antara jenis Hunter dan Tracker hanya pada aksesorinya. ”Kalau jenis Hunter, ada gambar burung garuda maupun elang, sedangkan Tracker tidak ada,” jelasnya.

Menurut dia, lima sepeda kayu itu baru saja digunakan untuk pawai budaya saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) 2017 pada Rabu (19/7) di Kota Malang. Dia mengaku senang bisa mengikuti pawai karena sepedanya mengundang perhatian banyak orang.

Sumarno menyatakan, sepeda kayu seperti motor Harley Davidson tersebut dibuat sejak 2014 lalu. Hingga 2017 ini, dia sudah membuat 8 sepeda kayu. Dari jumlah tersebut, 3 di antaranya sudah laku terjual dengan harga kisaran Rp 20 juta per unit. Jika ditanya soal biaya produksi untuk per unit sepeda kayu, Sumarno menyatakan, dia menghabiskan biaya sekitar Rp 10 juta.

Kemudian soal pengalamannya dalam membuat sepeda kayu, dia menyatakan, awalnya menggeluti berbagai macam kerajinan berbahan dari kayu. Mulai dari membuat perabotan rumah tangga hingga sepeda ontel. Lalu, dia memiliki ide membuat sepeda kayu setelah melihat produk sepeda kayu dari Amerika dan Meksiko. ”Kalau sepeda kayu Pit Kajeng termotivasi ketika melihat di YouTube mengenai sepeda dari Amerika Serikat dan Meksiko,” ucap bapak tiga anak ini.

Setelah melakukan berbagai riset dan mencari informasi, dia mulai melakukan percobaan membuatnya selama satu tahun. Bahkan, percobaan yang dia lakukan itu mengalami lima kali kegagalan. Sebab, rangkaian kayu yang disambungkan tidak presisi (tak tepat). Jika sambungannya tidak sesuai, rangka dari kayu pun mudah patah. ”Satu rangka memiliki satu rangkaian. Jika patah, harus membuatnya dari awal lagi,” ujar pria yang juga pemilik bisnis properti tersebut.

Padahal, dia melanjutkan, saat awal-awal mencoba membuatnya sudah mengeluarkan modal hingga Rp 70 jutaan. Namun, dia tidak kapok karena lebih berorientasi pada kepuasan dalam dirinya sendiri. Bagi dia, berhasil membuat sepeda kayu dengan berat 34 kilogram itu sudah sangat luar biasa. ”Memang harga kayunya mahal sehingga ya harus banyak berkorban,” ujar Sumarno.

Dia menceritakan, soal rangka sepeda Pit Kanjeng tidak memakai mur dan baut untuk menyambungnya. Tapi, cukup menggunakan lem khusus kayu. Meski menggunakan lem, tapi sangatlah kuat. Jadi, sepeda dengan panjang rangka 2,1 meter lebih itu pun kuat saat digunakan. ”Nilai seninya ya merangkai kayu biar presisi dalam bentuk melengkung. Untuk merangkai semua bagian sangatlah sulit,” ungkapnya.

Ditanya soal kayu yang digunakan, dia menyatakan jika memanfaatkan kayu sonokeling dan meranti. Dua jenis kayu itu menjadi pilihan karena memiliki kekuatan yang maksimal untuk dijadikan rangka sepeda ontel.

Agar lebih mantap lagi kekuatan kayunya, Sumarno harus memilih bagian dalam kayu yang berwarna gelap (galih). ”Saya memilih yang warnanya cokelat gelap agar rangka kuat dan struktur serat kayu juga harus padu atau beraturan. Hal itu menjamin kayu semakin kuat,” terang warga Kelurahan Bandulan ini.

Dia mengaku, dulu pernah mencoba menggunakan kayu jati Belanda, tapi sering patah sehingga dia menyakini kayu sonokeling dan meranti paling sesuai untuk rangka sepedanya.

Sumarno bercerita, dia tidak membeli kayu yang sudah berbentuk papan seperti banyak dijumpai di pasaran. Sebab, kalau membeli kayu dalam bentuk papan akan mengeluarkan uang yang banyak. Selain itu, sulit menemukan bagian dalam yang khusus untuk rangka. ”Saya membeli pohon sonokeling langsung di Dampit, Malang Selatan,” katanya.

Pohon yang dibeli bukan dari area Perhutani, tapi milik warga sehingga Sumarno harus mengurus izin juga ke desa agar legal dalam penebangan. Untuk pembelian kepada pemilik pohon sudah dilakukan sejak 1990-an sehingga memudahkan dalam membeli kayu. ”Jangan keliru ya, ini bukan penebangan ilegal di hutannya Perhutani,” terang pria berusia 45 tahun ini.

Sumarno terus bercerita proses penebangannya. Dia melakukan sendiri dengan dibantu sejumlah teman. Ukuran diameter pohon sonokeling dan meranti yang ditebang mencapai 40 sentimeter lebih dengan tinggi 15 meter. ”Saya tebang sendiri, lalu diangkut ke Bandulan untuk proses peng-oven-an,” ujar Sumarno.

Karena kayu yang baru ditebang pasti masih basah sehingga harus di-oven selama satu minggu sebelum dirangkai menjadi rangka sepeda ontel. Proses selanjutnya yaitu pemberian obat agar kayu tahan terhadap semua hama dan tidak mudah keropos. ”Saya tahu betul perlakuan kayu yang baik sehingga tidak asal-asalan,” kata Sumarno.

Alat-alat yang dibutuhkan untuk merangkai kayu seperti gergaji, bor, kompresor, dan alat gosok. Semuanya dilakukan dengan tangan agar bisa menghasilkan produk yang memiliki nilai seni. Seperti lengkungan rangka, motif batik pada kaki sepeda, dan ukiran burung garuda di bodi rangka. ”Ciri khas Indonesia masih ada meski menyerupai motor Harley Davidson,” kata putra pasangan Sukardi dan Maria ini.

Waktu pengerjaannya lebih banyak pada malam hari. Sebab, Sumarno harus dalam keadaan tenang dan pikirannya fresh. Hal itu dilakukan agar menghasilkan karya yang bagus. ”Saya butuh tiga bulan untuk pengerjaannya saat ini. Dan jumlah sepeda kayu yang saya miliki ada 8 unit dan 3 sepeda di antaranya dibeli orang Bali,” kata Sumarno.

Setelah rangkanya jadi, dia memasang perlengkapan sepeda seperti rantai, velg, dan ban. Panjang rantai yang dibutuhkan tiga kali rantai sepeda angin karena rangka sepeda kayu lebih panjang daripada sepeda biasa. ”Untuk velg harus khusus sepeda ontel karena harus mampu menahan berat hingga 34 kilogram. Sekarang masih bisa beli di pasar lokal, kayaknya ke depannya harus impor,” terang Sumarno.

Sepeda kayu pertamanya dengan jenis Hunter berhasil dibuat, tapi tidak langsung laku. Sumarno menguji kekuatan sepedanya dengan mengayuh dari Bandulan ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dalam waktu satu tahun. ”Saya awalnya memang tidak menjualnya. Saya mengujinya sendiri, hasilnya bagus dan tidak rusak maupun patah,” terang pria yang juga bisa membuat gitar ini.

Kemudian temannya dari Bali menawar sepeda kayunya. Sumarno enggan menyebut harga jualnya. Sebab, karyanya itu merupakan produk seni. Namun, sepeda karya dia yang lain sudah dibeli dengan harga sekitar Rp 20 juta per unit atau setara dengan satu unit sepeda motor Honda Vario keluaran terbaru. ”Kalau soal harga, saya tidak mematoknya,” ujar putra keempat dari empat bersaudara tersebut.

Sementara itu, untuk acara yang pernah dia ikuti dengan memakai sepeda kayu itu pun beragam. Seperti pawai budaya Rakernas XII Apeksi 2017 beberapa waktu lalu, kemudian saat ulang tahun Kota Surabaya, dan acara-acara 17 Agustusan di Kota Malang

Source https://radarmalang.id https://radarmalang.id/sumarno-pembuat-sepeda-kayu-asal-bandulan-kota-malang/
Comments
Loading...