Kerajinan Silet Ban Di Semarang

0 189

Kerajinan Silet Ban Di Semarang

Berawal dari ide tak terduga, Mochmmad Santoso Rahawarin mampu menyulap ban bekas tidak terpakai menjadi beraneka ragam miniatur bernilai seni dan memiliki harga jual tinggi. Di antaranya lukisan, robot, kapal, mobil dan pernak-pernik gantungan kunci.

Sebenarnya pada Desember 2014 lalu, sudah pernah membuat lukisan wayang dari ban bekas. Namun pria berdarah Ambon ini, baru tertarik membuat kerajinan ban berawal pada 28 November 2016 lalu, saat bekerja sebagai tukang vulkanisir (daur ulang) ban.

“Dulu saya tukang silet ban dan teman-teman banyak yang menyiletkan bannya. Karena jumlahnya banyak, sampah ban menumpuk sehingga tidak sengaja tertendang oleh saya. Ketika sampah ban berserakan di lantai saya lihat seperti bentuk gambar pemandangan,” kata pria yang akrab disapa Santoso.

Setelah kejadian tersebut, ia mulai memantapkan diri menggeluti kerajinan ban bekas. Apalagi setelah Pengurus Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Agus S Winarto menantang dirinya untuk membuat kerajinan ban bekas dengan konsep 3 dimensi dalam waktu 2 minggu. “Waktu itu lukisan saya dibeli Pak Agus Kota Lama (Agus S Winarto, red) seharga Rp 3juta. Kemudian ditantang untuk membuat dalam bentuk 3 dimensi itu. Dari situlah saya termotivasi terus. Apalagi teman-teman juga sering memberikan masukan,” tuturnya.

Santoso mengaku, semua itu dilakukan tanpa rencana karena awalnya tidak sengaja. Bahkan ia sendiri mengaku heran. Berawal dari sekadar memegang-megang ban bekas, tanpa disadari ia membentuk sebuah kerajinan. Kemudian ia kembali membuat lukisan dari siletan ban bekas. Setelah berhasil dengan membuat lukisan, dirinya mencoba mengerjakan pembuatan miniatur dari ban bekas.

Miniatur dari limbah ban bekas itu dibuat di kediamannya yang berada di Jalan Noroyono, nomor 58, Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara. Ia mengaku semua kerajinan yang dibuat, masih menggunakan dasar ban, seperti pengkilat menggunakan semir ban. Termasuk pewarna, juga mengambil seyetan ban yang ada warnanya.

Adapun lamanya pengerjaan, Santoso menyebutkan untuk 1 lukisan wayang bisa sampai 1 bulan. Menurutnya, pengerjaannya mudah, hanya saja untuk ide membutuhkan waktu lama. Apalagi ia mengerjakannya sendiri tanpa karyawan.

“Satu hasta karya gantungan kunci, kalau full kerja dari nol bisa jadi 40-50 buah. Tapi kalau nyambi kerja bengkel, paling sehari selesai 25 buah. Lain lagi kalau membuat robot, agak lama bisa selama tiga hari lebih,” ujarnya.

Sedangkan pembuatan miniatur yang tersulit adalah mengerjakan robot. Ini lantara proses pembuatan robot dibutuhkan kerangka yang kuat. Selain itu, tidak semua varian ban cocok digunakan untuk membuat aksesoris robot. Hanya ban luar serta ban dalam yang terdapat ring dan pentil yang bisa digunakan. Itupun masih diperkuat dengan lem perekat. “Membuat robot dimulai dengan membuat rangka yang berasal ban. Kemudian disambung dengan dop. Setelah terbentuk rangka, kemudian dipenuhi dengan ban luar,” jelasnya.

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2017/06/04/15-tahun-silet-ban-kini-hasilkan-kerajinan-seni-bernilai-tinggi/
Comments
Loading...