Kerajinan Sofa Kulit Kambing Di Klaten

0 238

Kerajinan Sofa Kulit Kambing Di Klaten

Mewarisi usaha keluarga, Mahmudi Hijari terus berinovasi. Dari hanya memasok dan menyamak kulit kambing, kini ia merambah bisnis kursi yang berbahan dasar kulit hingga bisa diekspor ke luar negeri.

Musim hujan seperti sekarang jadi tantangan sendiri buat Mahmudi Hijari. Warga Dukuh Karasan, Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten itu menekuni bisnis penyamakan kulit kambing, yang selanjutnya dikreasikan menjadi kursi dan sofa. Ia melayani pesanan dari berbagai daerah.

Hijari bercerita, pada proses penyamakan, kulit kambing yang ia dapatkan dari Boyolali, Magelang, Solo dan Yogyakarta, di tahap awal diberi bahan-bahan tambahan yakni garam dan bahan kimia. Hal itu bertujuan agar kulit dan bulu tidak rontok atau tetap awet. Pada proses tersebut, ia mengaku membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.

“Setelah kulit sampai di sini (di tempat usahanya), kemudian digarami agar tidak mudah busuk. Setelah itu dimasukan ke dalam tabung berputar dan diberikan cairan kimia selama lebih kurang dua hari. Baru dihilangkan lemak-lemaknya. Proses selanjutnya, kulit dijemur,” kata Hijari.

Untuk selembar kulit berukuran besar, ia beli dengan harga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Dalam waktu sebulan, ia bisa menghabiskan 700 hingga 800 lembar kulit kambing. Sesuai pesanan yang datang, kulit tersebut dikreasikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari kursi hingga sofa.

Musim hujan menjadi tantangan karena agak sulit untuk mengeringkan kulit. Matahari kadang tidak bersinar cerah, tertutup mendung dan bahkan bisa seharian bersembunyi. Padahal, bahan kulit harus mendapatkan panas alami. Jika tidak, bulu kambing akan berbau tak sedap. Menurut Hijari, untuk mengeringkan kulit di musim hujan diperlukan waktu setidaknya dua hari. “Mau tidak mau waktu produksinya jadi lebih panjang. Namun untuk menjaga kualitas ya tetap harus sabar,” katanya.

Ia berkisah, dulu saat dirinya masih kecil ayahnya merupakan pengusaha kulit. Namun demikian, hal itu baru dilakukan sebatas penyamakan kulit saja, belum sampai pada pengolahan menjadi berbagai produk kerajinan. Berkembangnya zaman, ia kemudian mengambil alih usaha kulit sang ayah. Berbekal keahlian saat belajar di Akademi Tekonologi Kulit (ATK) Yogyakarta, ia mulai menggeluti berbagai kerajinan kulit kambing.

Tidak sendirian, ia juga bermitra dengan rekan semasa kuliah yang kini juga menjadi pemasok kulit. Dari sana banyak tawaran yang kemudian datang kepada dirinya.

Namun demikian, untuk pangsa pasar luar negeri, ia mengaku masih belum berani bergerak seorang diri. Selama ini ia hanya melayani dari pemesan yang kemudian mereka ekspor.
“Kalau ekspor belum tahu caranya bagaimana. Kalau selama ini melayani pembeli dari Yogyakarta, Solo dan Jepara. Selanjutnya, mereka yang memasarkannya,” ucapnya.

Source http://jateng.tribunnews.com http://jateng.tribunnews.com/2016/03/27/kisah-hijari-menyulap-kulit-kambing-jadi-kursi-dan-sofa-kualitas-ekspor
Comments
Loading...