Kerajinan Songket Tamiang Di Aceh

0 189

Kerajinan Songket Tamiang Di Aceh

Melestarikan kearifan lokal dan membantu perekonomian, membuat perempuan ini eksis menenun pakaian yang pernah nge-trend pada masa kerajaan Seruway.

Suara  kertak-kertak terdengar dari pintu masuk rumah Mariani di Desa Pekan Suruway, Kecamatan Suruway, Aceh Tamiang. Dari rumah, dia menjalanakan usaha kerajinan songket yang diberi nama Lindung Bulan, yang sudah diwarisi secara turun-temurun. Benang warna-warni berjejer rapi di dalam lemari di tempat usaha tenun Lindung Bulan.

Kebutuhan hidup telah mendorong manusia untuk berfikir menciptakan segala sesuatu untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Misalnya karena kebutuhan melindungi tubuh, dibuatlah pakaian dari bahan dasar kapas, sehingga sejak saat itu muncul pakaian dari tenun di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, muculnya berbagai tenun dengan beragam motif dan hias yang bervariasi dengan arti yang berbeda.

Secara kajian sejarah, kain songket asal Tamiang mempunyai kesamaan dengan kain songket asal Malaka yang bermotif rebung. Motif ini ada kaitannya dengan salah seorang raja  di daerah Seruway, yaitu Zainal Abidin. Pakaian kebesarannya sampai sekarang masih dapat dilihat di Istana Seruway, berasal dari Malaka dan gaya jahitan kerahnya berpola Cina. Pola yang tertenun di pakaian tersebut adalah pucuk rebung menunjukkan ciri khas songket bagi orang-orang Melayu. Tetapi perbedaannya, motif Tamiang memiliki ciri tersendiri dengan sisi yang agak jarang dan kaku dibanding dengan motif songket dari daerah lain.

Hasil kebudayaan berupa songket tersebut menjadi identitas masyarakat Tamiang sehingga setiap hasil kebudayaan mempunyai makna simbolis yang patut untuk dikaji, misalnya motif pucuk rebung melambangkan harapan baik sebab bambu merupakan pohon yang tidak mudah rebah oleh tiupan angin kencang sekalipun. Motif pucuk rebung selalu ada dalam setiap kain songket sebagai kepala kain atau tumpal kain tersebut. Penggunaan motif pucuk rebung pada kain songket dimaksudkan agar si pemakai selalu mempunyai keberuntungan dan harapan baik dalam setiap langkah hidup.

Atas alasan nilai sejarah itulah, selain nilai ekonomis, Mariani hingga kini masih menenun songket Tamiang. Dia menjalankannya sendiri. Ketika lima tahun berjalan usahanya, ia didatangi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh dan diminta mengikuti pelatihan songket di Banda Aceh. Ia diberikan bantuan sepuluh alat tenun bukan mesin lengkap. Pada perkembangan selanjutnya usaha tenun Lindung Bulan selalu mendapatkan perhatian dari pemerintahan setempat baik berupa materi atau kunjungan serta diikutkan dalam beberapa acara dalam rangka memperkenalkan songket Tamiang.

Menurutnya, pembuatan songket tidaklah mudah. Jika sering dan serius bisa dikuasai dalam empat bulan. Penenun songket juga membutuhkan ketelitian dan fokus, karena ketika membuat songket, si penenun harus hafal benang mana yang tadi dipakai kemudian benang mana yang nanti akan dijalin lagi hingga membentuk sebuah kain. Tingkat kesukaran menenun sehelai songket tergantung pada motif yang dibuat. Benang disusun berdasarkan motif yang ingin dibentuk.

Mariani menjelaskan, ada beberapa bahan dasar dan alat yang digunakan dalam pembuatan songket, yang mencerminkan kearifan lokal setempat. Alat yang digunakan mempunyai istilah tersendiri misalnya, boom, merupakan gulungan benang yang digunakan sebagai bahan baku untuk kain yang melintang (panjang kain/benang lungsi); karap, yaitu alat untuk mengatur benang terdiri atas 2 bagian yaitu karap depan dan karap belakang; sisir adalah alat untuk menyisir dan memadatkan benang pakan supaya benang pakan menjadi rapat dan hasil tenunnya juga rapat.

Source https://www.pikiranmerdeka.co https://www.pikiranmerdeka.co/news/songket-tamiang-warisan-melayu/
Comments
Loading...