Kerajinan Souvenir Dari Benang Wol Di Batam

0 218

Kerajinan Souvenir Dari Benang Wol Di Batam

Zudha Sulviyana, risen di PT Epson Mukakuning-Batam tahun 2001, agar fokus mendidik anak. Disela mengurus buah hati, istri Edy Susanto itu memanfaatkan media internet untuk mengeluarkan ide-idenya. Mulai menulis cerpen, membuat websaid, bisnis online sampai membuat souvenir. Tahun 2012, Ibu dari Muh. Gaza Ziaulhaq merasa sulit mengembangkan semua hobi dan idenya. Akhirnya dia memilih fokus membuat souvenir dari benang woll.

Awal membuat souvenir, Ibu Zudha panggilan Zudha Sulviyana mengaku melihat bros dipakai oleh Ibu-Ibu disekitar ruamhnya. Lalu iseng-iseng membuatnya.

”Awalnya melaihat tetangga yang memakai bros. Saya penasaran gimana cara buatnya. Dari situ saya ingin mencoba,” ceritanya ketika memulai mengembangkan kreasinya di bidang souvenir.

Karya Zudha tidak seindah yang dilahatnya. Sehingga tak pede untuk memakai, apalagi menjual dan Sempat down. Cara buatnya pun tidak menggunakan pola atau gambar.

Setela tahu selera pasar, mengikuti model dengan brosing di internet. Alhasil dia bisa menciptakan karya yang bagus dan layak dijual. ”Jadi pede memakai sendiri dan laku. Sekarang yang saya buat selalu terjual,” tutur lulusan SMA Negeri 2 Kutarjo Jawa Tengah di rumahnya perumahan Masyeba Kirana Blok D No. 3 Belian.

Zudha mengaku hanya dengan melihat bunga bisa menjadi inspirasi membuat bros dengan berbagai jenis bunga. Merasa yakin dengan usaha souvenir dari benang woll, Zudha mengajak satu teman dan mengumpulkan modal masing-masing Rp 45 ribu.

Dalam menjual produk mereka memperkenalkan pada ibu-ibu majelis taklim dan juga menjual melalui online dengan naman Pondok rajut bunda. Setelah berjalan setangah tahun, sahabatnya tak sanggup melanjutkan. Sehingga Zudha harus melakoninya sendiri.

Ketika berjalan satu tahun usahanya makin berkembang dan pelanggang semakin banyak baik dari Batam maupun luar Batam. berbagai macam souvenir yang ia pasarkan selalu laku. Karena setiap kreasinya selalu tampil beda. ”Hampir setiap bulan saya melakukan inovasi, membuat yang beda dan bahan-bahanya pun berkualitas,” ujar dia sengan semangat.

Setiap tiga bulan sekali Zudha membeli bahan dengan Rp 300 ribu dan Satu hari bisa menyelesaikan satu losin souvenir bunga. Sebulan, zudha hitung-hitung bisa untung Rp 3 juta. ”Bisa dapat untung banyak, karena bisa membuat barang murah jadi mahal,” pungkas dia.

Sekarang kreasi souvenirnya dipesan Majelis Ulama Indonesia dan padaOktober 2015 Zudha ke Kota Kumamoto Jepang bersama keluarga, sekaligus membawa kreasimya, bunga, beneka dan membawa produk sesama UKMnya.

Kemajuan usahanya, kata Zudha tidak terlepas kontribusi pemerintah atau dinas UKM yang sering memberikan pelatihan, seninar dan mengikutsertakan produknya dalam pameran di tingkat nasional dan bahkan Internasional. Zudha banyak mendapat penghargaan dari pemerintah. Pada bulan juni 2015 lalu dia mendapat penghargaan dari Wali Kota Batam. Kategori Pengerajin Lentiq (Acecesories Crochet Brooch dan Clay) terbaik.

Zudha merasa senang diakui oleh pemerintah hasil karyanya dan dia berharap pemerintah terus memberikan bimbingan agar usahanya tetap lancar. Kata Zudha kendala yang dihadapi selama ini, belum adanya karyawan dan orang yang mau berkerja sama. Sebab bila ada pesan yang banyak ia kewalahan dalam prosuksinya.

Source http://www.isukepri.com http://www.isukepri.com/2015/05/zudha-sulviyana-pengerajin-lentiq-acecesories-crochet-brooch-dan-clay/
Comments
Loading...